Pada masa kepemimpinan R. KH. Muhammad Khozin Khoiruddin, pesantren tersebut semakin berkembang dan masyhur di kalangan ulama. R. KH. Khozin sendiri akhirnya juga membangun pesantrennya sendiri yang dinamai al-Khozini.
Saat ini, pesantren tersebut diasuh oleh KH. Asy’ari Asmu’i, KH. Mastur Shomad, KH. Abd Rohim Rifa’i, dan R. KH. Agus Taufiqurrochman. Pesantren tersebut masih tetap mempertahankan tradisi walau jaman terus berjalan begitu cepat.
Atas hal tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sepakat untuk memilih Sidoarjo menjadi tuan rumah. “Dengan penyelenggaraan di Sidoarjo, kita ingin meraup berkah dari para muassis (pendiri) NU dan guru-guru dari beliau-beliau semua,” kata Rahmat Hidayat Pulungan, Juru Bicara Puncak Resepsi 1 Abad Nahdlatul Ulama, di Sidoarjo, pada Sabtu, 4 Februari 2023.
Maka dari itu, perayaan ini seharusnya menjadi refleksi bagi para Nahdliyin untuk semakin mempelajari dan menghargai sejarah. Jangan melihat ulama Nahdlatul Ulama hanya dari kebesarannya saja, melainkan juga bagaimana perjuangannya untuk mencari ilmu.
Page: 1 2
PROGRESIF EDITORIAL - Dalam ibadah harian, dzikir atau mengingat Allah merupakan amalan ringan yang memiliki…
PROGRESIF EDITORIAL - Kehidupan seorang santri tidak hanya diisi dengan hafalan dan kajian kitab, tetapi…
PROGRESIF EDITORIAL - Setiap tanggal 10 November, seluruh Indonesia mengheningkan cipta, bukan sekadar untuk upacara…
PROGRESIF EDITORIAL - Berinteraksi dengan orang yang lebih tua, terutama dalam konteks ajaran Islam, bukan…
PROGRESIF EDITORIAL - Penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia) tidak hanya membawa perubahan keyakinan, tetapi juga…
PROGRESIF EDITORIAL - Bawang putih disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu jenis makanan, yang secara…