Categories: Opini

Duhai Agamaku, Bangunlah dari Tidur Panjangmu!

Namun, di tangan al-Manshur, keemasan Islam semakin nyata. Ia menaruh perhatian lebih pada ilmu pengetahuan dengan mengadakan mihnah (seminar ilmiah rutin yang diisi oleh ilmuwan ternama dari Romawi, India, dan sebagainya). Sehingga, muncul berbagai cendekiawan seperti al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Abu Hamid al-Ghazali, al-Imam Abu Nashir al-Farabi, Averroes, Avicenna, Avempace, Avenzoar, dan masih banyak lagi.

Setelah wafatnya al-Manshur, perkembangan ilmu pengetahuan Islam semakin pesat hingga mencapai puncaknya di masa Abu Ja’far Harun bin Muhammad ar-Rasyid dimana Baghdad menjadi rujukan utama para calon cendekiawan untuk belajar dan mengajar. Tak peduli dari mana latar belakangnya, yang utama adalah keseriusan dalam mencari ilmu dan mengamalkannya.

Pemerintahan Abu Abbas Abdullah bin Harun al-Ma’mun seolah menandai akhir dari masa emas tersebut. Meskipun ilmu pengetahuan masih dijunjung tinggi, para cendekiawan yang tak sepaham dengannya akan dipenjarakan. Sebut saja al-Imam Ahmad bin Hanbal yang menentang Mu’tazilah yang merupakan mazhab resmi negara.

Di masa Abu al-Fadhil Ja’far bin Muhammad al-Mutawakkil ‘Alallah, al-Imam Ahmad bin Hanbal dibebaskan untuk menjaring simpati dari umat dan menutupi seluruh perilaku bejat dan nirmoral yang dilakukan oleh keluarga Abbasiyah. Namun, pembebasan ini seolah menjadi bumerang yang dampaknya dapat dirasakan hingga saat ini.

Setelah bebas, muncul gerakan radikal dari golongan Hanabilah (para pengikut al-Imam Ahmad bin Hanbal). Mereka tak segan meneror ulama dan umat Islam di wilayah Abbasiyah yang berbeda pendapat dengannya. Ditambah lagi dengan penerapan Hanabilah/Hanbali sebagai mazhab resmi negara, mereka semakin leluasa untuk melanggengkan kuasanya.

Masalahnya, gerakan tersebut ternyata bukan berisi para ulama yang berkapabilitas dan bereputasi tinggi. Mereka adalah orang awam yang masih dangkal tentang ilmu agama, tapi di jiwa dan nala mereka telah tertanam berbagai dogma dan doktrin sesat yang tak dapat dicernanya.

Lantas, bagaimana Hanabilah meneror para ulama yang tentu sangat dihormati masyarakat?.

Page: 1 2 3 4 5

Abdul Wahid Tamimi

Recent Posts

Lisan Berhias Surga: Inilah Dzikir Paling Dicintai Allah

PROGRESIF EDITORIAL - Dalam ibadah harian, dzikir atau mengingat Allah merupakan amalan ringan yang memiliki…

4 months ago

Menghayati Adab Santri: Pilar Kehidupan di Pesantren

PROGRESIF EDITORIAL - Kehidupan seorang santri tidak hanya diisi dengan hafalan dan kajian kitab, tetapi…

5 months ago

10 November: Api yang Tak Pernah Padam di Jantung Surabaya

PROGRESIF EDITORIAL - Setiap tanggal 10 November, seluruh Indonesia mengheningkan cipta, bukan sekadar untuk upacara…

5 months ago

Adab Berbicara dengan Orang yang Lebih Tua dalam Islam: Menabur Hormat dan Kasih Sayang

PROGRESIF EDITORIAL - Berinteraksi dengan orang yang lebih tua, terutama dalam konteks ajaran Islam, bukan…

5 months ago

Warisan Abadi: Jejak Kebudayaan Islam di Nusantara

PROGRESIF EDITORIAL - Penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia) tidak hanya membawa perubahan keyakinan, tetapi juga…

5 months ago

Bawang Putih: Antara Manfaat Ajaib dan Adab Beribadah

PROGRESIF EDITORIAL - Bawang putih disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu jenis makanan, yang secara…

5 months ago