Home Seputar Islam Hati-hati, Bahaya Rasa Was-Was

Hati-hati, Bahaya Rasa Was-Was

by Farrel Dimas Saputra

Wajar bagi setiap manusia memiliki rasa was-was. Namun, apabila rasa was-was tersebut sudah berlebihan dan mengganggu ibadah, tentu tidak boleh dibiarkan.

Dalam Islam, was-was yang juga disebut waswasah adalah bisikan atau godaan setan jin atau setan manusia. Ini tertuang dalam Surat An-Nas ayat 1-5 yang artinya:

“Katalanlah aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Tuhan manusia, dari kejahatan al-waswas al-khannas. Yang selalu membisikkan (keburukan) ke dalam dada manusia.”

Mengutip buku Potret Kompetensi Dasar Santri oleh Abd. Muqit (2018), perasaan was-was justru menjangkit umat Muslim yang mengenal dengan baik ibadahnya.

Ketika beribadah, hati seseorang yang was-was akan selalu diliputi keraguan, perasaan tidak tenang, tidak khusyu’, dan merasa berat untuk melakukan sebuah ibadah.

Contohnya saat berwudhu. Ketika sedang membasuh anggota badan saat berwudhu, ada perasaan airnya belum merata atau belum sempurna, sehingga harus mengulangi basuhan atau wudhunya, dan itu berlangsung berkali-kali setiap berwudhu. Hal ini biasa dilakukan dengan dalih meraih kesempurnaan.

Quraish Shihab dalam bukunya Setan dalam Al Quran menjelaskan, melakukan wudhu berulang-ulang merupakan upaya setan untuk menjerumuskan umat Muslim dalam empat hal, yakni pemborosan air, melakukan sesuatu yang bukan pada tempatnya, melakukan sesuatu yang tidak diajarkan agama, dan keterlambatan melaksanakan sholat.

 Lalu, bagaimana cara menghilangkan waswas? mengobati waswas itukan bukan perkara mudah? Apa lagi bagi mereka yang sudah parah?

Jadi, Ada beberapa saran yang disampaikan ulama untuk mengobati was-was :

  • Tidak peduli

Obat yang paling mujarab untuk menghilangkan was-was adalah sikap tidak peduli. Tidak mengambil pusing setiap keraguan yang muncul.

Ahmad al-Haitami ketika ditanya tentang penyakit was-was, adakah obatnya? Beliau mengatakan,

له دواء نافع وهو الإعراض عنها جملة كافية ، وإن كان في النفس من التردد ما كان – فإنه متى لم يلتفت لذلك لم يثبت بل يذهب بعد زمن قليل كما جرب ذلك الموفقون , وأما من أصغى إليها وعمل بقضيتها فإنها لا تزال تزداد به حتى تُخرجه إلى حيز المجانين بل وأقبح منهم , كما شاهدناه في كثيرين ممن ابتلوا بها وأصغوا إليها وإلى شيطانها

Baca Juga:  Inilah Tata Cara Makan Minum Sesuai Anjuran Rasulullah!

Ada obat yang paling mujarab untuk penyakit ini, yaitu tidak peduli secara keseluruhan. Meskipun dalam dirinya muncul keraguan yang hebat. Karena jika dia tidak perhatikan keraguan ini, maka keraguannya tidak akan menetap dan akan pergi dengan sendiri dalam waktu yang tidak lama. Sebagaimana cara ini pernah dilakukan oleh mereka yang mendapat taufiq untuk lepas dari was-was. Sebaliknya, orang yang memperhatikan keraguan yang muncul dan menuruti bisikan keraguannya, maka dorongan was-was itu akan terus bertambah, sampai menyebabkan dirinya sepertiorang gila atau lebih parah dari orang gila. Sebagaimana yang pernah kami lihat pada banyak orang yang mengalami cobaan keraguan ini, sementara dia memperhatikan bisikan was-wasnya dan ajakan setannya (al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubro, 1:149).

Related Posts

Leave a Comment