Categories: Seputar Islam

Hukum Makan di Restoran All-You-Can-Eat yang Berlebihan

Dampak Makan Berlebihan di AYCE Menurut Fiqh

Sisi Kesehatan Tathbiq Ahkam at-Tibb, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa makan berlebihan menyebabkan penyakit fisik dan spiritual.   

Sisi ekonomi dan etika sosial, jika makanan di AYCE terbuang percuma, termasuk membuang harta ‘tabdzir’ yang dilarang dalam QS. Al-Isra’: 27.

Fatwa LBM NU:  

“Mubazir dalam makanan haram hukumnya jika sampai merusak nilai manfaat dan merugikan pihak lain.”

Solusi Islami saat Makan di AYCE

Agar tetap sesuai syariat, sebelum makan niat untuk menghindari Israf, ingat hadis Nabi Muhammad SAW tentang sepertiga perut. Pilih porsi secukupnya, ambil makanan sedikit dahulu, baru tambah jika masih ingin.

Saat makan, hindari Nafsu ‘Balik Modal’, tidak perlu makan sebanyak-banyaknya hanya karena sudah bayar mahal. Jangan sampai makanan terbuang, jika tidak habis usahakan dibungkus (jika diizinkan) namun beberapa restoran biasanya akan mengenai denda.

Setelah makan bersyukur dan evaluasi diri, apakah sudah makan sesuai kebutuhan atau sekadar memuaskan nafsu? Hindari kebiasaan AYCE jika tidak perlu, Nabi Muhammad SAW lebih suka makan secukupnya daripada berlebihan.

Pendapat Ulama NU tentang AYCE

Bahtsul Masail NU Keputusan LBM NU:  

“Sistem AYCE tidak haram secara akad, tetapi makruh jika mendorong israf dan pemborosan.”

Pandangan Ulama Syafi’iyyah Kontemporer, KH. Ma’ruf Amin (Ketua MUI & Rais Aam PBNU):

 “Makan di AYCE boleh asalkan tidak berlebihan dan tidak menyia-nyiakan makanan.”

Jadi, restoran AYCE halal secara akad, tetapi makan berlebihan di dalamnya haram karena israf. Prinsip utama dalam makan kebutuhan bukan keinginan, keseimbangan tidak kurang tidak lebih.  NU dan ulama Syafi’iyyah menekankan etika makan yang proporsional meskipun dalam sistem ‘sepuasnya’.  

Sumber Rujukan (NU & Aswaja Syafi’iyyah)

Al-Qur’an QS. Al-A’raf: 31, QS. Al-Isra’: 26-27.  Ihya’ Ulumuddin (Imam Al-Ghazali).  Fatwa NU: Keputusan Bahtsul Masail LBM NU tentang israf, pandangan KH. Ma’ruf Amin tentang etika konsumsi.

Page: 1 2

Arundaya Maulana

Recent Posts

Lisan Berhias Surga: Inilah Dzikir Paling Dicintai Allah

PROGRESIF EDITORIAL - Dalam ibadah harian, dzikir atau mengingat Allah merupakan amalan ringan yang memiliki…

9 months ago

Menghayati Adab Santri: Pilar Kehidupan di Pesantren

PROGRESIF EDITORIAL - Kehidupan seorang santri tidak hanya diisi dengan hafalan dan kajian kitab, tetapi…

10 months ago

10 November: Api yang Tak Pernah Padam di Jantung Surabaya

PROGRESIF EDITORIAL - Setiap tanggal 10 November, seluruh Indonesia mengheningkan cipta, bukan sekadar untuk upacara…

10 months ago

Adab Berbicara dengan Orang yang Lebih Tua dalam Islam: Menabur Hormat dan Kasih Sayang

PROGRESIF EDITORIAL - Berinteraksi dengan orang yang lebih tua, terutama dalam konteks ajaran Islam, bukan…

10 months ago

Warisan Abadi: Jejak Kebudayaan Islam di Nusantara

PROGRESIF EDITORIAL - Penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia) tidak hanya membawa perubahan keyakinan, tetapi juga…

10 months ago

Bawang Putih: Antara Manfaat Ajaib dan Adab Beribadah

PROGRESIF EDITORIAL - Bawang putih disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu jenis makanan, yang secara…

10 months ago