Islam masuk dan berkembang di Madura dalam waktu yang nyaris bersamaan dengan yang di Jawa. Datangnya pedagang dan ulama dari Arab, Persia, India, hingga China berperan sangat penting dalam penyebaran Islam di sana.
Bahkan, mereka menduduki jabatan penting di sana. Sebut saja Panembahan Cakradiningrat di Madura Barat yang merupakan hasil pernikahan antara keturunan Raja Majapahit dan Sunan Giri, atau Dinasti Kanduruan dan Dinasti Saud di Madura Timur yang merupakan keturunan beberapa Sunan.
Madura langsung tumbuh menjadi wilayah yang sangat agamis, hingga pernah menjadi pusat pendidikan Islam di Indonesia. Sebut saja Sunan Cendana dan keturunannya seperti Syaikhona R. KH. Muhammad Kholil, R. KH. Abdul Allam, R. KH. Bahrullah, R. KH. Abdul Hamid Itsbat, hingga R. KH. Muhammad Syarqawi, dan masih banyak lagi.
Diriwayatkan bahwa saat itu, Blambangan adalah wilayah yang paling sulit ditaklukkan Islam karena pengaruh mistis yang terlalu kuat. Namun, di tangan Suku Madura, wilayah tersebut akhirnya dapat dimasuki Islam.
Suku Madura sangat loyal pada para ulama. Ketika Nahdlatul Ulama terbentuk, seluruh Madura menyambutnya dengan sangat antusias dan gembira. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi kelangsungan organisasi tersebut. Bahkan, sebagian orang menganggap bahwa agama Suku Madura bukan Islam, tapi Nahdlatul Ulama.
PROGRESIF EDITORIAL - Dalam ibadah harian, dzikir atau mengingat Allah merupakan amalan ringan yang memiliki…
PROGRESIF EDITORIAL - Kehidupan seorang santri tidak hanya diisi dengan hafalan dan kajian kitab, tetapi…
PROGRESIF EDITORIAL - Setiap tanggal 10 November, seluruh Indonesia mengheningkan cipta, bukan sekadar untuk upacara…
PROGRESIF EDITORIAL - Berinteraksi dengan orang yang lebih tua, terutama dalam konteks ajaran Islam, bukan…
PROGRESIF EDITORIAL - Penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia) tidak hanya membawa perubahan keyakinan, tetapi juga…
PROGRESIF EDITORIAL - Bawang putih disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu jenis makanan, yang secara…