Home Seputar Islam Mengapa Manusia perlu Puasa?

Mengapa Manusia perlu Puasa?

by Arundaya Maulana
puasa/paxel

PROGRESIF EDITORIAL – Puasa merupakan rukun ke-4 dalam rukun Islam. Seorang muslim harus menjalankan rukun islam sebagaimana mestinya. Tentunya ia juga diwajibkan mengetahui tata cara puasa, dan macamnya. Lantas mengapa seorang muslim diwajibkan berpuasa?

Dikutip dari Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, pentingnya puasa dalam kedua aspeknya, baik secara lahir maupun batin (dzahiran wa batinan), mengindikasikan bahwa puasa memiliki dua dimensi yang saling terkait, yakni dimensi lahiriah dan dimensi batiniah.

Puasa lahir adalah bentuk puasa yang mengikuti ketentuan hukum syariat, terutama bagi orang awam, sementara puasa batin adalah bentuk puasa yang lebih mengedepankan penghayatan spiritual, khususnya bagi orang yang telah menguasai ilmu hakikat atau tasawuf. Dalam Kitab Ihya Ulumiddin, Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan bahwa terdapat persyaratan yang harus dipenuhi baik secara lahir maupun batin dalam menjalankan puasa Ramadhan.

Untuk memenuhi syarat puasa lahir, seseorang harus menjalankan aspek-aspek syariat terkait puasa, seperti berniat, menahan diri dari makan dan minum, serta menjauhi perbuatan-perbuatan terlarang seperti onani dan masturbasi bagi remaja, serta tidak melakukan hubungan suami-istri di siang hari.

Sementara itu, untuk mencapai kedalaman puasa secara batin, seseorang harus memiliki niat yang tulus karena Allah, mengendalikan nafsu-nafsu dalam diri, melakukan munajat (berdoa secara intens) dan dzikrullah (mengingat Allah secara berulang), serta terus memelihara ketakwaan kepada Allah SWT.

Berikut adalah beberapa keuntungan dari menjalankan puasa:

1. Mengasah rasa syukur kepada Allah SWT.

Menurut Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, puasa membantu kita untuk tetap bersyukur kepada Allah SWT. Allah memberikan hidayah kepada kita secara bertahap, seperti naluri, panca indra, akal, agama, dan taufik. Ketika kita mencapai bulan Ramadhan, kita bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk melaksanakan ibadah dengan pahala berlipat ganda. Saat berbuka puasa, kita merasakan nikmat Allah SWT yang menghilangkan lapar dan dahaga, serta nikmat yang dapat dinikmati bersama keluarga.

2. Mengembangkan disiplin dalam manajemen waktu.

Baca Juga:  Pengertian Zakat Fitrah dan Jenis-Jenis Barang yang Diperbolehkan untuk Berzakat

Dalam puasa Ramadhan, kita diajarkan untuk patuh pada waktu sahur dan berbuka. Ini memperkuat motivasi untuk bangun lebih awal dan bekerja dengan lebih efisien untuk mendapatkan rezeki yang halal. Melalui pengaturan jam kerja di lingkungan DJKN, pegawai memiliki kesempatan lebih banyak untuk berbuka puasa bersama keluarga.

3. Menemukan keseimbangan dalam hidup.

Puasa Ramadhan mengingatkan kita untuk memprioritaskan ibadah di tengah kesibukan dunia. Kita diajak untuk mengingat dan melaksanakan kewajiban ibadah dengan pahala berlipat ganda.

4. Meningkatkan solidaritas dan kepedulian sosial.

Bulan Ramadhan memperkuat rasa persaudaraan umat Muslim. Kita memperkuat silaturahmi dengan memberikan takjil secara gratis di masjid, beribadah bersama, dan menjalankan tadarusan di tempat kerja.

5. Memahami tujuan di balik ibadah puasa.

Tujuan puasa Ramadhan adalah untuk melatih diri kita agar dapat menghindari dosa di luar bulan Ramadhan. Ini mengajarkan kita untuk selalu berorientasi pada tujuan dalam melakukan segala amal ibadah.

6. Menghargai bahwa setiap perbuatan baik merupakan ibadah.

Setiap tindakan baik yang dilakukan oleh umat Muslim dianggap sebagai ibadah. Baik itu beribadah di masjid atau menjalankan tugas dan fungsi di lingkungan DJKN dengan baik.

7. Menanamkan kesadaran akan perbuatan yang baik.

Puasa Ramadhan mengajarkan kita untuk menghindari godaan dan keharaman, termasuk dalam tindakan, kata-kata, dan pikiran kita sehari-hari.

8. Mengasah ketabahan dan kesabaran.

Selama puasa, kita diajarkan untuk menahan diri dari perbuatan negatif seperti marah, curiga, dan berprasangka buruk terhadap orang lain.

9. Mengadopsi gaya hidup sederhana.

Berbuka puasa dengan makanan yang sederhana mengajarkan kita untuk menahan nafsu duniawi dan menghargai nikmat Allah.

10. Mencegah penyakit akibat pola makan yang berlebihan.

Puasa Ramadhan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat, membersihkan diri dari racun, dan memblokir makanan untuk bakteri, virus, dan sel kanker yang dapat membahayakan kesehatan.

Merujuk pada sumber NU online, terdapat tiga tingkatan puasa yang dapat dijelaskan. 

Pertama, tingkatan puasa umum adalah puasa yang khususnya fokus pada menjauhi segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, atau melakukan hubungan intim di siang hari.

Baca Juga:  Tujuan Berdiri saat Mahalul Qiyam dalam Sholawat

Kedua, tingkatan puasa khusus menambahkan dimensi lebih dari sekadar menjauhi hal-hal tersebut, dengan juga memperhatikan perilaku anggota tubuh agar tidak terjerumus dalam dosa, seperti menjaga penglihatan dari hal-hal terlarang, menjaga lisan agar tidak terlibat dalam fitnah atau kebohongan, menjaga pendengaran dari hal-hal yang tidak disenangi, serta mengatur pola makan saat berbuka hanya dengan makanan yang halal dan dalam porsi yang cukup.

Ketiga, tingkatan puasa yang khusus secara khusus melibatkan hati dan pikiran untuk ikut serta dalam proses berpuasa, dengan mengalihkan fokus dari urusan dunia semata atau hal-hal yang rendah kepada persembahan yang sepenuhnya ditujukan kepada Allah SWT.

Dengan demikian, pembelajaran dari ketiga tingkatan yang dijelaskan oleh Kiai Ahmad Abd Hamid Kendal ini menjadi penting bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa agar selalu mengikutsertakan dimensi puasa yang lebih dalam.

Related Posts

Leave a Comment