Categories: Esai

Mengilhami sikap Santri dalam berpolitik

Majunya sebuah negara tidak lain didasari oleh seorang pemimpin, hakim, dan petinggi negara lainnya yang menanamkan nilai-nilai politik berdasarkan hadis-hadis Rasulullah Saw. Hak berpolitik tidak hanya ditujukan kepada laki-laki saja, menurut sebagian ulama perempuan memiliki hak berpolitik.

Namun ada sebagian ulama lain yang melarang perempuan untuk berpolitik. Siapapun orangnya, baik laki-laki maupun perempuan jika mereka sudah memasuki ranah politik haruslah memperhatikan etika-etika sebagaimana layaknya seorang politisi yang baik, yang mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.

  1. Keharusan pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya

Telah meriwayatkan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Masing-masing dari kalian adalah seorang pemimpin dan akan bertanggungjawab atas yang kalian pimpin. Amir (kepala negara) pada umumnya adalah seorang pemimpin manusia dan akan bertanggung jawab atasnya. Seorang suami dari keluarga adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas mereka.

Seorang istri adalah pemimpin dalam keluarga dan anak-anak suami, dan akan bertanggungjawab atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan bertanggung jawab atasnya.

Ketahuilah bahwa setiap masing-masing dari kalian adalah seorang pemimpin, dan masing-masing akan bertanggung jawab atas orang-orang yang dipimpinnya” (HR. al-Bukhari: 1199). 

  1. Keharusan pemimpin untuk berlaku adil

Hadits Ma’qil bin Yasar. Diriwayatkan dari al-Hasan bahwa ‘Abdullah bin Ziyad mengunjungi Ma’qil bin Yasar ketika sakit menjelang wafatnya. Ma’qil berkata kepadanya: Aku akan sampaikan kepadamu, aku mendengar hadis dari Rasulullah Saw dan mendengar Nabi Saw bersabda:

“Seorang hamba yang dititipkan amanat oleh Allah Swt berupa kepemimpinan, namun ia tidak menindaklanjutinya dengan baik, ia tidak akan mendapatkan aroma surga” (HR. al-Bukhari: 1200).

  1. Keharusan pemimpin berfungsi sebagai pelindung

Sesungguhnya pemimpin itu seperti tameng yang digunakan untuk berperang dan berlindung. Ketika pemimpin memerintah sesuai dengan ketaqwaan kepada Allah azza wa jalla dan berlaku adil, maka Allah akan memberikan ganjaran kepadanya.

Sebaliknya, jika seorang pemimpin memerintah dengan kebijakan yang selain itu, maka dosanya akan dibalaskan (HR. Muslim, No Hadits: 4878).

Page: 1 2 3

Farrel Dimas Saputra

Recent Posts

Lisan Berhias Surga: Inilah Dzikir Paling Dicintai Allah

PROGRESIF EDITORIAL - Dalam ibadah harian, dzikir atau mengingat Allah merupakan amalan ringan yang memiliki…

6 months ago

Menghayati Adab Santri: Pilar Kehidupan di Pesantren

PROGRESIF EDITORIAL - Kehidupan seorang santri tidak hanya diisi dengan hafalan dan kajian kitab, tetapi…

6 months ago

10 November: Api yang Tak Pernah Padam di Jantung Surabaya

PROGRESIF EDITORIAL - Setiap tanggal 10 November, seluruh Indonesia mengheningkan cipta, bukan sekadar untuk upacara…

6 months ago

Adab Berbicara dengan Orang yang Lebih Tua dalam Islam: Menabur Hormat dan Kasih Sayang

PROGRESIF EDITORIAL - Berinteraksi dengan orang yang lebih tua, terutama dalam konteks ajaran Islam, bukan…

6 months ago

Warisan Abadi: Jejak Kebudayaan Islam di Nusantara

PROGRESIF EDITORIAL - Penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia) tidak hanya membawa perubahan keyakinan, tetapi juga…

6 months ago

Bawang Putih: Antara Manfaat Ajaib dan Adab Beribadah

PROGRESIF EDITORIAL - Bawang putih disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu jenis makanan, yang secara…

6 months ago