Home Ragam Peran Mawali dalam Kemajuan Islam

Peran Mawali dalam Kemajuan Islam

by Abdul Wahid Tamimi

Dalam perkembangan agama Islam, kita tak boleh menafikan peran Mawali di dalamnya. Mawali (jamak dari Mawla) adalah para umat muslim dari bangsa budak dan Ajam (non-Arab) baik dari Persia, Turki, India, Berber, dan masih banyak lagi.

Peran Mawali dimulai ketika Khalifah Umar bin Khattab menaklukkan Persia dan Syam yang menjadi perpanjangan tangan Romawi. Ketika itu, banyak sekali ulama dan cendekiawan yang dipekerjakan oleh khalifah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pemerintahan.

Mawali di zaman Khulafa ar-Rasyidin bekerja di bidang thabaqat (pemeriksaan literatur biografi) dan keguruan. Mereka mengajar dan mencetuskan sejumlah ilmu di berbagai madrasah. Bahkan, sebagian besar perawi hadis dan ahli fiqih atau Bahasa Arab merupakan Mawali.

Siapa yang tak mengenal Sibawaih (asy-Syaikh Amr bin Utsman Sibawaih asy-Syirazi) atau Imam Abu Hanifah (asy-Syaikh Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit al-Kufi al-Hanafi)?. Keduanya merupakan sedikit dari banyaknya Mawali generasi pertama. Selain mereka, masih ada lagi Imam al-Kisai (asy-Syaikh Ali bin Hamzah al-Kisai al-Kufi), Ibnu Sirin (asy-Syaikh Abu Bakar Muhammad bin Sirin al-Bashri), hingga Thawus bin Kaisan (asy-Syaikh Thawus bin Kaisan al-Himyari al-Yamani)

Peran Mawali sempat melemah di zaman Kekhalifahan Umayyah. Ketika itu, khalifah ingin mengunggulkan orang Arab. Sehingga, para Mawali seolah ditindas untuk memuluskan orang Arab menempati jabatan esensial. Namun, jauh di semenanjung Iberia, Thariq bin Ziyad yang merupakan seorang Mawali dari Berber justru memimpin penaklukan Andalusia.

Baca Juga:  Mendidik Anaka: Tanggung Jawab Ayah atau Ibu?

Related Posts

Leave a Comment