Pada bulan Ramadan 245 Al-Hijri (859 M), Fatima Al-Fihri mulai membangun sebuah masjid. Dia menamainya Al-Quaraouiyine untuk menghormati kota Al-Qayrawan dari mana leluhurnya berasal.
Selama pembangunan masjid, Fatima berpuasa setiap hari. Di samping masjid ia mendirikan sebuah madrasah tempat pendidikan dengan standar tertinggi akan diberikan.
Pengajaran di universitas ini bermula hanya pada ilmu agama dan menghafal Al-Quran. Namun, seiring perkembangan waktu, pembelajaran diperluas ke tata bahasa Arab, musik, tasawuf, kedokteran, hingga astronomi. Universitas ini pun menjadi pusat pendidikan umat Islam pada saat itu.
Siswa dari seluruh dunia bepergian untuk mempelajari berbagai mata pelajaran, mulai dari ilmu alam hingga bahasa hingga astronomi, dan Fatima sendiri juga belajar di sana. Selama abad pertengahan, Universitas al-Qarawiyyin dianggap sebagai pusat intelektual utama.
Abu Al-Abbas al-Zwawi, Abu Madhab Al-Fasi, dan Leo Africanus adalah beberapa pemikir, teoretikus, dan penulis terkemuka yang diproduksi oleh universitas Al-Fihri. Pembuat peta, astronom, dan sejarawan terkenal hadir sebagai mahasiswa. Saudara perempuan Al-Fihri, Mariam membangun masjid Al-Andalus.
Tidak mengherankan, banyak sarjana terkemuka telah belajar di lembaga terkenal ini. Rumor mengatakan bahwa bahkan Gerbert dari Aurillac yang lebih dikenal sebagai Paus Sylvester II, pernah belajar di al-Qarawiyyin. Dan dialah yang diberi penghargaan untuk memperkenalkan angka Arab (yang kita gunakan sampai hari ini) ke seluruh Eropa.
Menjadi tonggak sejarah, universitas yang didirikan oleh sosok perempuan ini juga melahirkan perempuan hebat lainnya yang tak kenal menyerah untuk meraih pendidikan. Contohnya seperti Lubna, yaitu ahli matematika dan penyair yang dulunya menjadi seorang budak.
