Kisah Menarik Sayid Arif, Saudara Sayid Sulaiman

by Arundaya Maulana
3 minutes read

“Banyak yang datang ke sini. Selama ke sini mereka selalu membeli dagangan warga sini,” ujar seorang pedagang yang tak mau disebut namanya.

Tak hanya Jumat Legi, di hari biasa pun banyak orang yang ziarah ke makam Mbah Sayyid Arif. Kadang rombongan adalah peziarah Wali Lima yang baru berangkat dan mampir di sana. Ada juga yang mampir dalam perjalanan pulang setelah ziara Wali Lima.

Selain pedagang, ada juga warga yang bertugas menjaga kebersihan serta merawat area pesarean. Sehingga, wilayah pesarean tetap bersih, aman, dan nyaman ketika didatangi warga.

“Jadi, ada warga yang dibayar untuk merawat pesarean ini agar tetap bersih dan nyaman,” kata Supali, orang yang sudah dua minggu tidur di pesarean.

Ada pula penjaga parkir yang juga mengais rezeki di sana. Para penjaga parkir ini mendapat sekian persen dari biaya parkir yang didapat.

Juga Ada Makam Sejumlah Tokoh

Tak hanya makam Mbah Sayyid Arif. Di area pesarean di Segoropuro juga terdapat sejumlah tokoh penting lainnya. Antara lain, makam Mbah Sayyid Abdurrohman yang terletak sekitar 10 meter sebelah utara masjid. Lalu, makam Mbah Kendil yang ada di sebelah baratnya makam Mbah Sayyid Abdurrohman.

Supali, 90, warga setempat mengatakan, Mbah Sayyid Abdurrohman merupakan ayah kandung dari Mbah Sayyid Arif dan Mbah Sayyid Sulaiman.

Selain menimba ilmu di pesantren, Mbah Sayyid Arif juga berguru pada ayahnya itu. Setelah mendirikan padepokan di Desa Segoropuro, dia juga yang mengarahkan Mbah Sayyid Arif mendidik warga. Namun, derajat kewaliannya lebih mansyur Mbah Sayyid Arif.

“Iya ini berdasarkan cerita dari tokoh dan sesepuh di sini (Desa Segoropuro),” ujarnya.

Selain itu, mereka juga mempunyai seorang pembantu. Dia adalah Mbah Kendil. Dia merupakan juru masak dan tukang bersih-bersih di padepokan Mbah Sayyid Arif dan Sayyid Abdurrohman.

Namun, Mbah Kendil sendiri sejatinya juga merupakan seorang waliyullah. Dia berasal dari warga sekitar, yakni warga Desa Wates, Kabupaten Pasuruan.

Selain itu, di sekitar pesarean itu juga ada makam Mbah Embo. Dia merupakan warga sekitar yang dimakamkan di sana. Selama hidup, Mbah Embo konon mengerti bahasa hewan.

Seperti yang diungkapkan Ketua Yayasan Mbah Sayyid Arif Segoropuro Fathullah, 50. Mbah Embo menurutnya, mempunyai banyak santri dari berbagai wilayah. Dia juga seorang tabib di Desa Segoropuro.

Semasa hidup Mbah Embo memelihara banyak hewan. Di antaranya anjing, burung, dan hewan lainnya. Menurut cerita turun temurun, Mbah Embo hampir tidak pernah mandi dan memiliki rambut panjang. “Setahun sekali dia mandinya,” katanya.

Namun, menurut Fathullah, tidak ada yang mengetahui agamanya apa. Sebab, dia hafal Alquran. Namun dia juga tidak pernah shalat setiap  harinya. “Belum sampai seribu harinya dia meninggal dunia,” lanjutnya.

Di wilayah pesarean itu, terdapat gua yang konon ada tiga cabang. Jika ke area barat tembusnya ke Baitullah, ke arah utara tembusnya ke makam Mbah Batu Ampar. Sedangkan ke selatan tembusnya ke pantai selatan.

Namun, pengelola memilih menutupnya lantaran tempat itu banyak hewan berbahaya. Ada ular berbisa dan hewan berbahaya lainnya. Sebelum Pandemi Covid-19, gua itu merupakan tempat tirakat pengunjung, maupun warga sekitar.

“Itu masih belum diketahui hingga sekarang. Apa gua itu ada hubungannya dengan Mbah Sayyid Arif atau bagaimana. Masih simpang siur. Sejak dulu gua itu sudah ada,” katanya.

Related Posts

Secret Link