- KH. Muhammad Noerhasan Nawawi

Lahir pada 1909, KH. Muhammad Noerhasan Nawawi adalah putra satu-satunya KH. Nawawi Noerhasan dari istri pertama, Hj. Ru’yanah Oerip yang masih memiliki hubungan sepupu dengannya.
Sejak di dalam kandungan, KH. Muhammad Noerhasan Nawawi, sudah memiliki keistimewaan. Para kiai mengatakan pada KH. Nawawi Noerhasan bahwa putranya akan menjadi seorang macan putih yang menjadi panutan umat.
Benar saja, KH. Muhammad Noerhasan Nawawi tumbuh menjadi seorang wali yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Ia sanggup membaca dan mengajarkan buku karya ulama besar. Padahal, usianya saat itu masih sangat muda.
Selain itu, KH. Muhammad Noerhasan Nawawi juga sangat rendah hati, sederhana, dan rasa hormat dan kasih sayang yang sangat luhur. Ia sangat senang bercengkrama dengan para warga tanpa menunjukkan kedudukannya. Bahkan, banyak orang awam yang tak mengetahui bahwa ia adalah seorang ulama.
Di masa pemberontakan PKI, KH. Muhammad Noerhasan Nawawi menunjukkan salah satu keistimewaannya. Suatu ketika, ia bersama beberapa santrinya pernah melawan komplotan anggota PKI yang ingin membunuhnya. Pada awalnya, mereka kewalahan karena anggota PKI tersebut kebal senjata.
Lalu, KH. Muhammad Noerhasan Nawawi, KH. Muhammad Ghozi Noerhasan, putranya, dan Anshori, pembantunya, mengeluarkan pecut sebanyak 4 buah. Ketika pecut tersebut dipukulkan, anggota PKI tersebut terbakar dan kekebalannya hilang.
KH. Muhammad Noerhasan Nawawi wafat pada 1967 di usia 58 tahun. Di hari wafatnya, muncul sebuah keajaiban. Pelayat yang hadir sangat ramai. Bahkan, tak sedikit yang berasal dari mancanegara. Selain itu, liang lahatnya terbuka sendiri seolah menerima dengan tangan terbuka.
