Ketiga, santri menganggap peraturan dan kewajiban bagaikan angin lalu belaka. Mereka enggan melakukan bila tidak diancam, dihukum, dan sebagainya.
Persuasi seperti “Ayo bangun.”, “Ayo berangkat shalat ke masjid.”, “Ayo ngaji.”, dan sebagainya, sebenarnya sudah tak perlu dilakukan. Semakin dewasa, seharusnya mereka semakin berpikir dan tersadar akan pentingnya hal tersebut secara sendirinya.
Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi. Nalar dan jiwa mereka telah dirasuki beban berat bernama kemalasan. Beban tersebut mengakar dan tersebar hingga menjadi sebuah tradisi negatif yang baru.
Bayangkan, ada seseorang yang menyandang titel sebagai santri, tapi ia tidak melakukan kewajiban agama. Padahal, hal tersebut seharusnya dilakukan tidak hanya oleh para santri, tapi juga seluruh umat muslim.
Maka, tak heran apabila kredibilitasnya sebagai seorang santri akan dipertanyakan. Bahkan, umat yang awam bisa jadi menyalahkan pesantren beserta pengasuhnya karena dianggap gagal mendidik. Padahal, kesalahannya terletak pada santri sendiri.
ROGRESIF EDITORIAL - Sejarah masuknya Islam ke Nusantara selalu menarik untuk diulik, terutama ketika kita…
PROGRESIF EDITORIAL - Mempelajari kehidupan Nabi Muhammad SAW bukan hanya tentang spiritualitas dan akhlak, tetapi…
PROGRESIF EDITORIAL - Ketika sakit gigi menyerang, rasa nyeri yang hebat seringkali membuat kita bingung…
PROGRESIF EDITORIAL - Kekalahan telak di Perang Badar meninggalkan luka yang amat dalam bagi kaum…
PROGRESIF EDITORIAL - Batik itu lebih dari sekadar kain ia adalah seni berjalan dari Indonesia.…
PROGRESIF EDITORIAL - Siapa sih yang tidak kenal Ibnu Khaldun? Meskipun namanya mungkin tidak sepopuler…