Categories: Ragam

Sufi adalah Ahli Tasawuf, Ini Tiga Cirinya

PROGRESIF EDITORIAL– Sufi adalah ahli ilmu tasawuf atau sufisme. Tasawuf atau sufisme ini adalah bagian dari Ilmu Islam yang penting dipahami, selain ilmu tauhid dan ilmu fiqih. Ilmu tasawuf merupakan ilmu yang berfokus pada membangun diri untuk menjauhi hal duniawi.

Istilah sufisme sendiri merupakan ilmu yang memiliki berbagai versi asal sejarah. Ada juga beberapa pendapat yang mengungkapkan bahwa sufisme adalah ilmu yang lahir di luar Islam. Dari sini, penting kiranya kita semua mendapat kajian lebih banyak ihwal karakteristik sang sufi sejati. Sehingga, tidak tertipu oleh orang-orang yang hanya bergelagat sufi itu. Tentunya, tidak lepas dari mengkaji tasawuf itu sendiri.

Sufi sejati itu sendiri dapat dikenal lewat beberapa tanda atau karakteristik tertentu. Ibnu Ajibah menjelaskan tiga karakteristik sufi sejati dalam syarah Al-Hikam al-‘Athaiyyah miliknya. Ia menulis: والصوفي الصادق أن يفتقر بعد الغنى ويذل بعد العز ويخفى بعد الشهرة Artinya, “Sufi sejati selalu merasa butuh (kepada Allah) walau telah kaya raya, selalu merasa hina kendati telah mendapat kemuliaan, dan selalu merasa terpendam meski telah mendapat popularitas tertinggi.”

Imam al-Hasan Ibnu Manshur mengatakan, “As-shufiyyu wahidun fi ad-dzati la yaqbaluhu ahad(un) wala yaqbalu ahad(an)” (Sufi sejati itu adalah sosok dengan kepribadian tunggal yang tidak tergantung pada orang lain; tidak butuh diakui dan tidak menjual nama orang untuk kepentingannya sendiri).

Banyak disebut-sebut juga bahwa sang sufi sejati itu bagai tanah subur yang menjadi tempat segala hal buruk, namun selalu tulus membalasnya dengan segala bentuk keindahan. Para ulama mengatakan: من أقبح كل قبيح صوفي شحيح Artinya, “Keburukan paling akut, alias keburukan di atas setiap keburukan terdapat dalam diri seorang sufi yang pelit.” Alasannya, karena gelar sufi itu diberikan kepada pelaku kebajikan dengan nominasi terbaik. Sedang Al-Qur’an sangat tegas mengatakan, “Lan tanalul birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun” (Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai [QS. Ali Imran 3:92]).

Kita sepakat bahwa kaya bukanlah penghalang seseorang menjadi sufi sejati, terpenting ia tidak terpedaya oleh kekayaan yang dianugerahkan kepadanya. Begitu halnya dengan kemuliaan dan ketenaran. Tetapi jika kekayaan membuatnya sombong dan lebih rakus mencari dunia, kemuliaan juga membuatnya merasa tak terhormat saat dicaci dan keberatan ketika orang-orang tidak menghormati, terlebih saat ia memanfaatkan popularitasnya untuk menindas serta mempermalukan orang lain, jelas bukan sufi sejati

Gading Martin

Share
Published by
Gading Martin

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

3 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago