Menelisik Kandungan Surah Ays-Syu’ara’ Ayat 18

PROGRESIF EDITORIAL – Surah Asy-Syu’ara merupakan salah satu surah dalam Al-Qur’an yang termasuk golongan Makkiyah dan terdiri dari 227 ayat. Surah ini dinamakan Asy-Syu’ara yang berarti “Penyair-penyair” karena di dalamnya terdapat peringatan terhadap para penyair yang sering menyimpang dari ajaran yang benar. Salah satu ayat yang penting dalam surah ini adalah ayat ke-18, yang berhubungan dengan dialog antara Nabi Musa a.s. dan Fir’aun. Ayat ini memiliki makna yang mendalam dalam konteks dakwah dan perjuangan Nabi Musa a.s. melawan kezaliman.

Ayat ke-18 dari Surah Asy-Syu’ara berbunyi:

قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ

Artinya:

“(Fir’aun) berkata: ‘Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (kami) waktu engkau masih kanak-kanak, dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu?'”

Ayat ini merupakan bagian dari dialog antara Nabi Musa a.s. dan Fir’aun ketika Nabi Musa diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada Fir’aun dan mengajak Bani Israil keluar dari perbudakan di Mesir. Fir’aun, dalam upayanya untuk meremehkan dan merendahkan Nabi Musa a.s., mengingatkan Musa tentang masa lalunya saat ia diasuh di istana Fir’aun. Fir’aun menganggap Musa berhutang budi karena diasuh di istananya sejak kecil hingga dewasa.

1. Pengasuhan di Istana Fir’aun

Fir’aun mengklaim bahwa Nabi Musa a.s. dibesarkan di istananya sebagai seorang anak angkat. Fir’aun menganggap hal ini sebagai jasa besar yang seharusnya membuat Musa merasa berhutang budi. Namun, tujuan sebenarnya Fir’aun adalah untuk merendahkan Musa dan mengalihkan perhatian dari pesan yang dibawa oleh Musa.

2. Masa Lalu Nabi Musa a.s.

Fir’aun menyebutkan bahwa Nabi Musa a.s. tinggal di istananya selama beberapa tahun. Menurut tafsir, Nabi Musa tinggal di istana Fir’aun selama sekitar 30 tahun sebelum ia melarikan diri ke Madyan setelah membunuh seorang Mesir yang sedang berkelahi dengan seorang Israel.

3. Strategi Fir’aun untuk Merendahkan Musa

Fir’aun menggunakan strategi psikologis dengan mengingatkan Musa tentang masa kecilnya di istana, berharap hal ini akan membuat Musa merasa rendah diri dan kurang percaya diri dalam misinya. Ini adalah taktik yang sering digunakan oleh orang-orang zalim untuk menekan dan merendahkan para pejuang kebenaran.

Ayat ini mengandung banyak hikmah dan pelajaran bagi umat Islam:

Page: 1 2

Arundaya Maulana

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago