Categories: Tokoh

Abdurrahman Alkadrie, Pendiri Kota Pontianak

PROGRESIF EDITORIAL – Dalam buku sejarah, kita pernah sesekali mendengar nama Sultan Abdul Hamid II. Ia merupakan Sultan Kadriah Pontianak sekaligus perancang lambang Pancasila. Namun, ia bersama Raymond Westerling juga melakukan pemberontakan di Bandung dan Makassar. Sehingga, Sultan diadili dan namanya dihilangkan dari sejarah.

Ternyata, banyak yang masih belum tahu bagaimana latar belakang keluarga Sultan Abdul Hamid II. Padahal, sejarahnya sangat panjang dan penting untuk kita pelajari bersama. Kali ini, saya akan membahas leluhurnya yang bernama Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Kadriah Pontianak.

as-Sulthan as-Syaikh as-Sayyid asy-Syarif Abd ar-Rahman bin Husein bin Ahmad al-Qadri berasal dari Asia Tengah atau Selatan serta bagian dari keluarga as-Syaikh as-Sayyid Abd al-Qadir al-Jilani. Tak banyak yang dapat dijelaskan mengenai masa kecil dan remajanya. Lahir pada sekitar 1730, ia beserta keluarganya hijrah ke Kalimantan pada 1771 untuk menyusul saudaranya berdakwah di sana.

Sesampainya di Pontianak, Abd ar-Rahman dan keluarganya membabat dan mengusir roh halus yang mendiami kota tersebut. Nama Pontianak dalam bahasa lokal berarti Kuntilanak, karena ia adalah hantu yang paling banyak mendiami kota tersebut. Setelah 7 tahun membangun kota, Abd ar-Rahman diangkat sebagai sultan pertama Pontianak.

Di tangan Abd ar-Rahman, Pontianak tumbuh menjadi kota pelabuhan yang makmur karena dilewati oleh percabangan sungai Kapuas yang penting untuk perdagangan dan diplomasi politik. Selain itu, kebijakannya dalam hal dakwah dan peperangan membuat Islam begitu disegani dan dihormati di Kalimantan Barat, bahkan mancanegara. Hal itu ditandai dengan kedatangan asy-Syaikh Mahmud bin Abd al-Hamid asy-Syarwani dari Daghestan yang juga menurunkan keluarga Kesultanan Kadriah.

Abd ar-Rahman wafat pada 1807 dan dimakamkan di Pontianak. Ia meninggalkan 2 putra, yaitu Utsman dan Qasim yang keturunannya secara bergantian memimpin Pontianak. Saat ini, kesultanan dipimpin oleh as-Sulthan as-Syaikh as-Sayyid asy-Syarif Melvin bin Abu Bakar bin Mahmud al-Qadri. Semoga kita semua mendapat berkahnya.

Abdul Wahid Tamimi

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

3 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago