Jaga Lisan/Freepik
PROGRESIF EDITORIAL – Kata siapa puasa hanya menahan lapar dan dahaga? Puasa lebih dari sekedar itu! Hai sahabat santri, gimana nih puasanya? Semoga kita semua dan setiap muslim dapat menjalani bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan ikhlas dan semangat! Aamiin..
Nah seperti yang ada di judul artikel ini, kita akan membahas tentang hal-hal yang dapat mempengaruhi pahala puasa seperti ghibah dan lainnya.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan membatalkan pahala puasa. Salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kualitas puasa adalah ucapan. Islam mengajarkan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut seseorang memiliki dampak terhadap amal ibadahnya, termasuk puasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa dengan mudah tergoda untuk berbicara hal yang sia-sia, berkata kasar, menggunjing, berdusta, atau bahkan memfitnah orang lain. Semua ini bisa menjadi penghalang bagi kesempurnaan pahala puasa. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami bagaimana ucapan dapat mempengaruhi pahala puasa dan bagaimana cara menjaga lisan selama berpuasa.
Puasa dalam Islam tidak hanya sebatas menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari segala hal yang dapat mengurangi nilai ibadah puasa itu sendiri. Jika seseorang berpuasa tetapi masih berkata-kata yang tidak baik, maka puasanya tidak mencapai tujuan yang sebenarnya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menekankan bahwa tujuan utama puasa adalah mencapai takwa. Takwa tidak hanya berarti menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga dari perkataan dan perbuatan yang tidak diridhai Allah.
Berikut adalah beberapa jenis ucapan yang dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa seseorang:
Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain tanpa alasan yang dibenarkan adalah salah satu dosa yang bisa mengurangi pahala puasa.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Dalam konteks puasa, ghibah dapat merusak pahala karena bertentangan dengan prinsip menjaga diri dari perbuatan buruk.
Berdusta adalah kebiasaan yang sangat dilarang dalam Islam, apalagi jika dilakukan saat berpuasa. Ucapan dusta tidak hanya menodai kejujuran seseorang, tetapi juga dapat merusak pahala ibadahnya.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah para pendusta.” (QS. An-Nahl: 105)
Saat seseorang berpuasa tetapi masih berbohong, maka puasanya tidak membawa manfaat spiritual sebagaimana yang seharusnya.
Mengucapkan kata-kata kasar, mencaci, atau berkata tidak sopan bisa merusak kualitas puasa seseorang. Puasa seharusnya menjadi ajang untuk melatih diri agar lebih sabar dan menjaga tutur kata.
Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sungguh, setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (QS. Al-Isra’: 53)
Perintah ini menunjukkan bahwa seorang muslim, terlebih lagi ketika berpuasa, harus menjaga lisannya dari kata-kata yang dapat menyinggung perasaan orang lain.
Fitnah atau menyebarkan informasi yang tidak benar tentang orang lain merupakan dosa besar dalam Islam. Jika seseorang berpuasa tetapi masih suka menyebarkan fitnah, maka puasanya kehilangan esensi dan nilai ibadahnya.
Allah SWT berfirman:
“Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191)
Ucapan yang mengandung fitnah tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga dapat membuat pahala puasa seseorang menjadi sia-sia.
Ulama Nahdlatul Ulama (NU) menekankan bahwa menjaga lisan saat berpuasa merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah. Dalam berbagai kajian fikih yang berkembang di kalangan ulama NU, dijelaskan bahwa seseorang yang berpuasa tetapi tidak menjaga ucapannya dari keburukan, maka ia hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja tanpa memperoleh pahala yang sempurna.
Beberapa poin penting yang ditekankan oleh ulama NU dalam menjaga ucapan saat puasa adalah:
Ulama NU juga mengajarkan bahwa puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga spiritual. Oleh karena itu, seseorang yang ingin puasanya benar-benar bermanfaat harus menghindari perkataan yang tidak baik.
Agar puasa tetap bernilai tinggi di sisi Allah, berikut adalah beberapa cara untuk menjaga ucapan:
Nah, sahabat santri dari penjelasan-penjelasan tersebut dapat kita ambil beberapa poin berharga yaitu:
Dengan menjaga ucapan, seseorang tidak hanya mempertahankan pahala puasanya, tetapi juga meningkatkan kualitas ibadahnya agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Apakah sahabat santri sudah mengetahuinya? Tidak ada salahnya jika kita mengulas kembali pengetahuan seputar hal ini. Semoga amal kita untuk terus berikhtiar menimba ilmu menjadi berkah dan diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin..
Wallahu a’lam bish-shawab.
Page: 1 2
PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…
PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…
ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…
PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…
PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…
PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…