PROGRESIF EDITORIAL – Bawang putih disebut dalam Al-Qur’an sebagai salah satu jenis makanan, yang secara implisit menegaskan nilai dan manfaatnya bagi kesehatan. Oleh karena itu, konsumsi bawang putih, yang kaya akan nutrisi, dianjurkan karena sejalan dengan perintah Islam untuk menjaga tubuh. Ia dianggap sebagai tayyibat (makanan baik).
Meskipun baik, Islam memberikan panduan adab yang ketat. Dilarang keras memakan bawang putih mentah sebelum pergi ke masjid atau tempat berkumpul.
Mengapa? Bukan karena haram, melainkan karena baunya yang menyengat dapat mengganggu konsentrasi jamaah lain dan kenyamanan malaikat di tempat ibadah. Ini adalah aturan yang menekankan penghormatan terhadap hak orang lain untuk beribadah dalam ketenangan.
Pengecualian penting: Larangan ini gugur jika bawang putih telah dimasak matang, karena proses memasak akan menghilangkan atau mengurangi bau menyengat tersebut.
Intinya, bawang putih mengajarkan kita bahwa menjaga kesehatan pribadi (dengan memakannya) harus sejalan dengan menjaga kenyamanan kolektif (dengan menghilangkan baunya saat berada di ruang publik atau ibadah). Adab di atas segalanya.
PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…
PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…
ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…
PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…
PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…
PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…