Di usia remaja, Habib Anis mendirikan perusahaan batik. Sebagai pengusaha, ia dikenal sebagai pria yang sangat sabar dan dermawan bahkan di masa sulit.
Diceritakan bahwa ketika pabrik batik miliknya terbakar, Habib Anis tetap bersabar. Bahkan, ia mengumpulkan masyarakat yang membantunya memadamkan api dan membelikan mereka makanan.
Suatu saat, Habib Alwi meninggal saat menghadiri Walimah al-Ursy (acara pernikahan) di Palembang. Sehingga, Habib Anis yang kala itu usahanya sedang berjaya terpaksa mengalihkan urusannya dan menggantikan jabatan ayahnya sebagai Imam Besar Masjid Riyadh.
Habib Anis dijuluki oleh keluarganya sebagai pria muda yang berpakaian tua. Hal ini disebabkan karena ia masih berusia 25 tahun saat menggantikan ayahnya. Cukup muda bagi pria sebaya untuk mengemban tugas yang cukup berat seperti demikian.
PROGRESIF EDITORIAL - Wayang bukan sekadar seni pertunjukan biasa; ia adalah cerminan panjang peradaban Nusantara.…
PROGRESIF EDITORIAL - Hari Jumat bagi umat Muslim ibarat jendela emas menuju keberkahan. Salah satu…
PROGRESIF EDITORIAL - Malam adalah waktu di mana kita melepaskan diri dari hiruk-pikuk dunia dan…
PROGRESIF EDITORIAL - Pada hakikatnya, Sumpah Pemuda bukanlah sekadar tiga poin ikrar yang dibacakan pada…
PROGRESIF EDITORIAL - Konsep Jihad fi Sabilillah (Arab: جهاد فِي سَبِيلِ اللَّهِ) sering kali disalahpahami,…
PROGRESIF EDITORIAL - Setiap tanggal 22 Oktober, denyut semangat Hari Santri selalu terasa istimewa. Pada…