Categories: Seputar Islam

Junub Ketika Akhir Waktu Sholat? Gimana Sholatnya?

Bismillah,

Tentunya jika kita sudah baligh, kita pernah mengalami mimpi basah, dimana celana atau pakaian yang kita gunakan saat tidur basah disebabkan ejakulasi. Ejakulasi pada saat tidur terjadi karena mimpi yang berkaitan dengan hubungan seksual.

Nah pertanyaannya adalah bagaimana jika kita terbangun dari mimpi basah ketika waktu sholah subuh akan habis?

Sedangkan jika kita telah mengalami mimpi basah itu berarti kita dalam keadaan junub. Lalu, termasuk perkara haram bagi orang yang junub melakukan sejumlah aktivitas ibadah, diantaranya membaca Al Qur’an, dilarang menyentuh Al Qur’an, hingga dilarang melakukan sholat fardhu maupun sunah.

Waktu baginya adalah waktu ketika dia bangun (tidur) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmizi, no. 177. Nasa’i, no. 615. Abu Dawud, no. 437 dan Ibnu Majah, no. 698 dari Abu Qatadah, dia berkata: “Mereka menceritakan kepada Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tentang tertidurnya mereka dari (menunaikan) shalat, maka beliau bersabda

“Sesungguhnya (kehabisan waktu shalat karena) tidur tidak dikatakan melalaikan, akan tetapi yang dianggap melalaikan adalah apabila dia terjaga. Kalau seseorang di antara kalian lupa atau tertidur sehingga ketinggalan shalat, maka lakukanlah shalat ketika dia ingat.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Tirmizi, haditsnya berasal  dari  dua kitab shahih; Shahih Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : “Siapa yang baru bangun di akhir waktu shalat dan dia dalam kondisi junub sementara dia khawatir kalau mandi akan keluar waktu (shalat), maka dia tetap  harus mandi, kemudian shalat, meskipun waktu shalat telah habis,  begitu juga bagi orang yang lupa (shalat).” (Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah)

Maka jika kita terbangun dalam keadaan junub karena mimpi basah diakhir waktu sholat, kita harus mendahulukan untuk mandi besar, kemudian melaksanakan sholat. Mengapa demikian? Karena mayoritas ulama berpendapat kita tetap harus mandi wajib karena dalam kondisi memiliki udzur.

Dengan ini semoga kita senantiasa dalam limpahan rahmat Allah SWT dan senantiasa diperkenankan berjalan di jalan yang lurus. Tak  lupa limpahan shalwat dan salam tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Aamiin..

Farrel Dimas Saputra

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago