Categories: Seputar IslamTokoh

Kisah Sayyid Sulaiman, Nenek Moyang Kiai Besar di Pulau Jawa

PROGRESIF EDITORIAL– Seorang pria gagah bersinggah di Kota Cirebon. Pria itu datang dari kota yang sangat jauh. Di masa itu, begitu banyak pria dari kota tersebut yang ikut singgah bersamanya. Mereka rela berlayar sejauh mungkin demi satu tujuan mulia, menyebarkan pesan suci yang telah difirmankan Allah melalui datuk mereka, Rasulullah saw.

Pria itu bernama Abdurrahman. Dia berasal dari keluarga al-Habib Abu Bakar Basyaiban, seorang ulama besar keturunan Rasulullah dari Hadramaut, Yaman. Basyaiban dalam Bahasa Arab berarti keturunan orang yang beruban. Mengapa Abu Bakar dijuluki demikian?.

Pada suatu ketika, Abu Bakar menghilang ketika masih muda. Ia berkhalwat (menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah) di suatu tempat. Setelah sekian lama berkhalwat, ia pulang ke Hadramaut.

Para masyarakat terkejut melihat kondisi fisik Abu Bakar saat itu. Ia memiliki rupa layaknya seorang pemuda namun memiliki rambut seputih salju. Sejak saat itu, ia dijuluki Syaiban (orang yang beruban) dan keturunannya pun digelari Basyaiban.

Di Cirebon, Abdurrahman menikahi Khadijah, putri Tubagus Maulana Hasanuddin sang penguasa Banten sekaligus putra dari Sunan Gunung Jati. Dari pernikahan tersebut, lahirlah 3 putra yaitu Sulaiman, Arif Abdurrahman, dan Abdul Karim.

Pada kisah kali ini, kita akan membahas si sulung, yaitu al-Habib Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban atau lebih dikenal dengan nama Sayyid Sulaiman.

Sayyid Sulaiman lahir di Cirebon pada abad ke-16 Masehi. Sejak kecil, ia dididik dengan pendidikan agama oleh kedua orangtuanya. Ia memikul tanggungjawab yang besar, yaitu meneruskan perjuangan dakwah Sunan Gunung Jati dan keluarga Basyaiban.

Sayyid Sulaiman berguru pada banyak ulama besar seperti Sunan Ampel dan Tubagus Sholeh yang tak lain adalah pamannya sendiri. Ia pun tumbuh menjadi ulama yang sangat disegani oleh segala lapisan masyarakat. Mulai orang biasa hingga aristokrat, semuanya menghormatinya bahkan berguru padanya.

Kharismanya inilah yang membuat penjajah geram. Sayyid Sulaiman terpaksa melarikan diri ke Pekalongan. Dari Pekalongan, ia kembali melarikan diri ke Solo. Selanjutnya, Pasuruan menjadi persinggahan terakhirnya. Di sana, ia membangun keluarganya dan pesantren di wilayah Sidogiri, sebuah desa di Kecamatan Kraton.

Sayyid Sulaiman memiliki 6 putra, yaitu Hasan, Abdul Wahab, Muhammad al-Baqir, Ali Akbar, Ahmad, dan Hazam. Keturunannya tersebar di penjuru Jawa. Banyak kiai besar yang tersambung padanya seperti Syaikhona KH. M. Kholil, KH. Achmad Shiddiq, KH. Abdul Hamid, hingga KH. Mas Mansur dan KH. Agoes Ali Masyhuri.

Suatu ketika, Kesultanan Mataram ingin mengundang Sayyid Sulaiman. Mereka ingin membuktikan kesaktiannya. Sayyid Sulaiman pun memenuhi undangan tersebut. Ia bersama santrinya memamerkan beberapa kesaktian seperti memakan keris dan mengubah bambu menjadi hewan.

Sultan pun terkesima dan berniat mengangkat Sayyid Sulaiman sebagai hakim, namun ditolak. Sayyid Sulaiman bersama santrinya akhirnya kembali ke Pasuruan.

Sayyid Sulaiman diundang kembali oleh Kesultanan Mataram. Namun, ia sakit ketika sampai di Mojoagung, sebuah desa di Kabupaten Jombang. Lantas, ia berdoa, “Apabila pertemuan ini baik dan bermanfaat, pertemukanlah. Namun, bila tidak, wafatkanlah saya di sini”. Sayyid Sulaiman akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di Mojoagung.

Sepeninggal Sayyid Sulaiman, Pesantren Sidogiri dikelola oleh keluarga serta santrinya. Pesantren tersebut kini menjadi salah satu yang terbesar dan pencetak para ulama hebat.

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil begitu banyak teladan seperti haus akan mencari, mengamalkan, serta mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Karena dengan hal demikian, pahala kita tidak akan terputus. Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputus amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh.” (H.R. Muslim).

Semoga kisah ini dapat memberi wawasan dan inspirasi yang bermanfaat, dan semoga kita mendapatkan berkah dari Sayyid Sulaiman.

Amin ya rabbal alamin.

Editor: Indah Nurlaeli

Abdul Wahid Tamimi

Share
Published by
Abdul Wahid Tamimi

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago