Categories: Seputar IslamTokoh

Kisah Sepucuk Surat Khalifah Umar Untuk Sungai Nil

Kota Mesir selalu identik dengan keberadaan Sungai Nil. Sungai ini bahkan telah ada sejak ratusan juta tahun silam dan menjadi sumber kehidupan penduduk Mesir. Sungai Nil nyatanya juga memiliki sebuah sejarah menarik.

Diriwayatkan dari Ibnu Luhai’ah dari Qais bin Hajjaj dari seorang yang pernah mengisahkan padanya. Setelah Mesir ditaklukkan, Amr bin Al-Ash ditemui oleh para penduduk pada saat memasuki bulan Ba’unah. Mereka datang untuk menceritakan tradisi turun temurun yang dilakukan pada setiap malam ke-12 bulan itu.

Tradisinya adalah menumbalkan seorang gadis perawan yang orang tuanya dipaksa merelakan putrinya untuk ditenggelamkan di Sungai Nil. Tujuannya agar sungai tak kekeringan.

Gadis itu dirias dengan berbagai macam perhiasan dan pakaian yang paling indah untuk kemudian ditenggelamkannya ke sungai. Menanggapi itu, Amr bin Al-Ash menyampaikan bahwa tradisi tersebut tidak ada dalam Islam. Ia juga menolak dan melarang tradisi tersebut untuk dilakukan penduduk Mesir.

“Sesungguhnya tradisi semacam itu sama sekali tidak dikenal dalam Islam, dan sesungguhnya Islam akan meruntuhkan segala tradisi sebelumnya,” Ucap Amr bin Al-Ash.

Bunah pun berlalu, hingga datangnya Abib (bulan sebelas menurut hitungan kalender Qubti dan Masra) namun Sungai Nil tak kunjung mengalir. Para penduduk mendesak untuk melaksanakan tradisi mereka, hingga sang gubernur kehabisan akal melarang dan memutuskan mengirim surat kepada sang khalifah, Umar bin Khattab RA.

Dalam suratnya, Amr menjelaskan perihal keadaan kota Mesir dan keringnya Sungai Nil, serta keputusannya melarang warga melakukan persembahan.

Umar bin Khattab membalas surat Amr, dan dalam suratnya dia berpesan, apa yang telah engkau lakukan itu benar. “Saya mengirim satu kartu di dalam surat saya ini. Buanglah kartu itu ke dalam Sungai Nil,” tulis Umar.

Amr bin Al-Ash pun membuka kartu yang di dalamnya tertulis. “Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin untuk Sungai Nil Mesir amma ba’du. Jika memang engkau mengalir karena keinginanmu sendiri, maka tidak perlu kau mengalir. Akan tetapi jika engkau mengalir karena perintah Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa, sebab Dia-lah yang membuatmu mengalir maka kami memohon kepada Allah agar membuatmu mengalir,” tulisnya.

Dilemparkanlah kartu itu ke sungai tepat sehari sebelum hari salib. Pada pagi harinya, Allah telah mengalirkan air setinggi 16 hasta (6–7 meter) hanya dalam satu malam. Kisah ini pulalah yang mengakhiri tradisi buruk penumbalan gadis perawan bagi penduduk Mesir. Betapa besar kuasa Allah, air tersebut masih mengaliri Sungai Nil hingga saat ini.

Hingga kini Sungai Nil menjadi sungai yang tak pernah kering meski musim kemarau melanda. Penduduk Mesir juga telah berhenti dan meninggalkan tradisi persembahan mereka hingga saat ini.

Kisah ini mengajarkan agar tidak memiliki keragu-raguan kepada Allah. Kalau kita berprasangka baik kepada Allah, maka Allah akan memberikan sesuai apa yang menjadi prasangka hamba.

Husnudzan kepada Allah adalah hal paling mendasar, yang harus dimiliki oleh setiap umat. Karena khawatir atau tidak khawatir, Gusti Allah yang menentukan takdir.

Wallahu A’lam Bishawb

Farrel Dimas Saputra

Share
Published by
Farrel Dimas Saputra

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago