Categories: Tokoh

Mbah Dalhar, Berlian Tersembunyi dari Watucongol

Magelang, sebuah kota di utara Yogyakarta yang menyimpan berjuta kearifan budaya. Siapa yang tak mengenal Candi Borobudur dan Gunung Tidar? Kedua tempat wisata tersebut berada di wilayah Magelang. Di balik keindahan Magelang, hidup 2 ulama besar secara berurutan, yaitu KH. Nahrowi Dalhar (Watucongol) dan KH. Abdul Hamid (Kajoran). Kali ini, saya akan membahas KH. Nahrowi Dalhar, seorang ulama yang pidatonya menggemparkan Nahdliyyin.

KH. Nahrowi Dalhar lahir di Watucongol, sebuah desa di Magelang, pada 12 Januari 1870. Ia lahir dari pasangan KH. Abdurrahman dan Hj. Rodliyah, darahnya tersambung ke Amangkurat III melalui buyutnya, KH. R. Bagus Kemuning Hasan Tuqo. KH. Dalhar belajar di Pesantren al-Kahfi Somalangu milik as-Sayyid Abdul Kahfi al-Jilani. Karena kecerdasannya, ia diminta gurunya untuk belajar di Makkah. Tak menyangka, KH. Dalhar dapat menimba ilmu di sana hingga 22 tahun.

KH. Dalhar dikenal sangat takzim terhadap keluarga gurunya. Suatu hari, as-Sayyid Abdurrahman menawarkan kuda padanya. Namun, KH. Dalhar memilih untuk tetap berjalan kaki. Tak hanya itu, lamanya menuntut ilmu membuatnya sangat pendiam. KH. Siradj Abdurrasyid (Payaman, Magelang) mengibaratkannya sebagai wadah air yang sangat penuh sehingga tak bersuara.

KH. Dalhar pernah menggemparkan Nahdliyyin dengan pidatonya pada Muktamar Nahdlatul Ulama XIV di Magelang. Ia berpidato dengan sangat singkat. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sapa wilujeng sedaya (pada selamat semua)?. Panjenengan lak NU, to (Anda semua NU kan)?. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” ucapnya.

Setelah itu, Nahdlatul Ulama langsung mendapat simpati yang luar biasa dari umat Islam di Karesidenan Kedu dan Banyumas. Banyak yang menganggap ini adalah sedikit dari berbagai karomah yang dimiliki KH. Dalhar. Wallahu a’lam.

KH. Dalhar wafat pada 8 April 1959 dan dimakamkan di Watucongol. Kini, pesantren miliknya dikelola oleh keluarga cucunya, KH. Nurul Hidayat. Semoga kita semua mendapat berkah dari KH. Dalhar. Amin ya robbal alamin.

Abdul Wahid Tamimi

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

3 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago