Syeikh Nawawi al Jawi berpendapat dalam kitabnya mirqatu as-su’ud at-tashdiq sebagai berikut:
والمثرَادُ بالوَلِيٍّ كُلٌّ مِنْ أَبَوَيْهِ وَإِنْ عَلَيَا وَلَوْ مِنْ قِبَلِ الأُمِّ فَيَسْقُطُ الوجوبُ بِفِعْلِ أَحَدِهِمَا لِحُصُوْلِ المَقْصُودِ بِهِ وإنما خُوْطِبَتْ بِذَالِكَ الأمُّ وَ اِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وِلَايَةٌ لِأَنَّهُ مِنَ الأَمْرِ بِالمَعْرُوْفِ وَلِذَالِكَ وَجَبَ ذَالِكَ عَلَى الأَجَانِبِ اَيْضًا عَلَى مَا ذَكَرَهُ الزَّرْكَشِي وَاِنَّمَا خُصُّوا لِأَبَوَيْنِ بِذَالِكَ لِأَنَّهُمَا أَخَصُّ مِنْ بَقِيَّةِ الأَجَانِبِ نَقَلَهُ الكُرْدِيُّ عَنِ الإِيْعَابِ.
Berdasarkan ibarah di atas, bahwa kewajiban mendidik seorang anak adalah menjadi tanggung jawab bersama antara seorang ayah dan ibu. Akan tetapi bila salah satu dari keduanya ada yang mendidiknya dengan baik, maka gugur kewajiban tersebut bagi yang lain (ayah/ibu), dikarenakan tujuan utama bagi anak tersebut sudah terpenuhi (mendidiknya).
Didalam kitab Hasyiah al-Bajuri, Syeikh Ibrahim al-Bajuri berpendapat bahwa, dalam mendidik seorang anak, beliau lebih menititikberatkan kepada seorang ibu, dikarenakan ia lebih lemah lembut dalam bertutur kata, lebih sabar dan lebih besar kasih sayangnya daripada seorang ayah. Sehingga dengan alasan ini beliau lebih menganjurkan ibu dari pada seorang ayah dalam mendidik anak. (Hasyiah al-Bajuri Juz II, hal. 377).
