Menjadi Dermawan Tanpa Menunggu Kaya: Meraih Keberkahan Hidup dan Setelah Mati

PROGRESIF EDITORIAL – Dalam dawuh di atas, seorang ulama memberikan nasihat yang sangat mendalam tentang pentingnya sikap kedermawanan dan pengingat untuk tidak hanya mengingat Allah di saat kepepet. Pesan ini mengandung pelajaran penting tentang bagaimana kita menjalani hidup dengan penuh ketulusan kepada Allah SWT dan sesama manusia, sehingga keberkahan menyertai kita, baik di dunia maupun setelah kematian.

1. Kedermawanan Tanpa Menunggu Kaya

Wes ta.. sing loman sampean. Supoyo uripe keramat, matine keramat, ba’da matine keramat.

Nasihat ini mengajarkan bahwa kedermawanan adalah salah satu jalan untuk meraih keberkahan dalam hidup, kematian, dan setelahnya. Dalam Islam, sifat loman (dermawan) sangatlah mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa memberi lebih baik daripada menerima. Kedermawanan bukan hanya memberikan harta, tetapi juga bisa berupa waktu, tenaga, bahkan nasihat yang bermanfaat. Orang yang dermawan akan mendapatkan pahala yang besar, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Kedermawanan membawa keberkahan, dan salah satu cara untuk meraih keramat (keberkahan luar biasa) dalam hidup dan setelah mati adalah dengan bersikap murah hati. Bukan hanya pada saat memiliki kelebihan, tetapi juga ketika dalam keadaan sulit.

2. Jangan Menunggu Kaya untuk Menjadi Dermawan

Sampean lek pengen loman, ojok ngenteni sugih.

Pesan ini menekankan bahwa seseorang tidak perlu menunggu kaya untuk menjadi dermawan. Dalam Islam, kedermawanan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi seberapa tulus seseorang dalam memberi. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Satu dirham mengalahkan seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu bisa terjadi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang memiliki dua dirham, lalu dia bersedekah dengan satu dirham. Sementara orang lain memiliki harta yang sangat banyak dan bersedekah dengan seratus ribu dirham.” (HR. An-Nasa’i)

Hadis ini menunjukkan bahwa yang paling penting adalah ketulusan hati dalam memberi, bukan jumlahnya. Oleh karena itu, menjadi dermawan bukan tentang menunggu saat kita memiliki kekayaan yang melimpah, tetapi tentang keikhlasan memberi, bahkan di saat kita sendiri mungkin terbatas.

Page: 1 2

Arundaya Maulana

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

3 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago