Namanya Musa, ia lahir di Abwa pada tanggal 7 Shafar 120 Hijriah. Ayahnya bernama Ja’far ash-Shadiq dan ibunya bernama Hamidah Khatun al-Maghribi. Nasabnya bersambung pada Rasulullah dengan rincian:
Musa dikaruniai kecerdasan yang sangat mumpuni. Suatu hari, Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit bertanya tentang kendali Tuhan dalam perbuatan manusia.
Musa yang masih muda menjawab bahwa manusia telah diberikan kebebasan setelah menerima bimbingan dan tuntunan dari Allah. Abu Hanifah terkesima akan jawaban cerdas dari pemuda tersebut.
Selain kecerdasan, Musa adalah seorang yang dermawan dan bertata krama luhur. Ia pernah memberi 300 dinar pada petani yang pernah menyakitinya. Selain itu, ia tak segan-segan membantu orang miskin.
Ketika ditanya tentang alasan atas perbuatannya, Musa menjawab bahwa kekayaan manusia itu tidak akan abadi dan boleh jadi manusia yang kita bantu dapat membantu kita di hari kiamat.
PROGRESIF EDITORIAL - Dalam ibadah harian, dzikir atau mengingat Allah merupakan amalan ringan yang memiliki…
PROGRESIF EDITORIAL - Kehidupan seorang santri tidak hanya diisi dengan hafalan dan kajian kitab, tetapi…
PROGRESIF EDITORIAL - Setiap tanggal 10 November, seluruh Indonesia mengheningkan cipta, bukan sekadar untuk upacara…
PROGRESIF EDITORIAL - Berinteraksi dengan orang yang lebih tua, terutama dalam konteks ajaran Islam, bukan…
PROGRESIF EDITORIAL - Penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia) tidak hanya membawa perubahan keyakinan, tetapi juga…
PROGRESIF EDITORIAL - Bawang putih disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu jenis makanan, yang secara…