Categories: Berita

Ragam Gelar Kebangsawanan dalam Kesultanan di Dunia

Di masa perkembangan Islam, banyak kesultanan yang telah berdiri di berbagai penjuru dunia. Sebutan penguasanya beragam, mulai dari sultan, raja, kaisar, adipati, dan masih banyak lagi.

Tak hanya itu, para bangsawan di dalam kesultanan tersebut juga memiliki gelar yang beragam, mulai dari Khan, Pasha, Raden, dan masih banyak lagi. Bagaimana makna dan penggunaannya?.

  1. Khan

Khan adalah gelar yang digunakan untuk sultan serta zuriatnya yang terletak di Asia Utara dan Barat seperti Ottoman dan Timurid. Untuk perempuan, maka bergelar Khatun. Berasal dari kata Khagan (dalam bahasa Türk artinya raja), gelar tersebut berasal dari kebudayaan Ural-Altaic (keturunan Yafits bin Nuh) yang menurunkan orang Türk, Mongol, dan Tatar.

  1. Paşa

Paşa adalah gelar yang digunakan untuk gubernur atau walikota di Ottoman dan Mesir. Ada 2 sumber yang diduga menjadi asal gelar ini. Versi pertama berasal dari kata Padishah (dalam bahasa Persia artinya tuan raja), versi kedua berasal dari kata Başağa (dalam bahasa Türk artinya putra pambayu).

  1. Mirza

Mirza adalah gelar yang digunakan untuk zuriat sultan di Asia Tengah dan Selatan seperti Safawi dan Mughal. Untuk perempuan, maka bergelar Begum. Gelar tersebut berasal dari kata Amirzada/Amirzadeh (dalam bahasa Persia berarti putra raja).

  1. Şehzade

Şehzade adalah gelar yang digunakan untuk putra Sultan Ottoman. Untuk perempuan, maka nama belakang mereka bergelar Sultan. Berasal dari kata Shahzadeh (dalam bahasa Persia artinya putra raja), gelar tersebut dipengaruhi kebudayaan Persia.

  1. Raden

Raden adalah gelar yang digunakan untuk zuriat raja dan sultan di Indonesia, khususnya di Jawa dan Madura. Ada 2 sumber yang diduga menjadi asal gelar ini. Versi pertama berasal dari kata Rahadian (dalam bahasa Sanskerta artinya jiwa mulia), versi kedua berasal dari kata Ro’a ad-Din (dalam bahasa Arab berarti berpandangan agamis).

Demikian sedikit penjelasan mengenai ragam gelar kebangsawanan dalam kesultanan di dunia. Semoga menjadi ilmu yang berkah dan bermanfaat.

Abdul Wahid Tamimi

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

5 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

5 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

5 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

5 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

5 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

5 months ago