Categories: Seputar IslamTokoh

Saad Bin Abi Waqash, Pemanah Muslim Yang Tidak Pernah Meleset Anak Panahnya

Sa’ad bin Abi Waqqash merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijanjikan masuk surga. Dia menjadi panglima perang di masa kenabian. Sa’ad juga diangkat menjadi amir atau setingkat gubernur di Irak di masa khulafaur rasyidin.

Ia dikenal sebagai panglima militer yang mahir menggunakan anak panah dan seorang pedakwah yang menyebarkan Islam di wilayah China pada sekitar pertengahan abad ke-7.

Sa’ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf hidup di tengah-tengah Bani Zahrah yang merupakan paman Rasulullah SAW. Wuhaib adalah kakek Sa’ad dan paman Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah.

Sa’ad juga dikenal orang karena ia adalah paman Rasulullah SAW.  Dan beliau sangat bangga dengan keberanian dan kekuatan, serta ketulusan iman Sa’ad. Nabi bersabda, “Ini adalah pamanku, perlihatkan kepadaku paman kalian!”

Pada usia 17 tahun, Sa’ad bin Abi Waqqash resmi menjadi Muslim dan diketahui sebagai orang ketiga yang memeluk Islam. Setelah memeluk Islam, ia tidak gentar untuk membela agama Islam dan Nabi Muhammad SAW, meskipun yang menentang adalah ibunya.

Ibu Sa’ad bernama Hamnah binti Sufyan bin Abu Umayyah adalah seorang wanita hartawan keturunan bangsawan Quraisy, yang memiliki wajah cantik dan anggun. Disamping itu, Hamnah juga seorang wanita yang terkenal cerdik dan memiliki pandangan yang jauh. Hamnah sangat setia kepada agama nenek moyangnya; penyembah berhala.

Ibu Sa’ad, Hamnah, tidak hanya marah setelah mengetahui keputusan putranya, bahkan mengancam akan mogok makan sampai Sa’ad melepas Islam dan kembali kepada ajaran nenek moyangnya. Namun, ancaman itu tidak menggoyahkan keputusan Sa’ad. Ia tetap memilih Islam hingga ibunya luluh dan merestuinya.

Keislamannya termasuk cepat, karena ia mengenal baik pribadi Rasulullah SAW. Mengenal kejujuran dan sifat amanah beliau. Ia sudah sering bertemu Rasulullah sebelum beliau diutus menjadi nabi.

Sa’ad masuk Islam setelah mendengar dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sa’ad menyatakan keislamannya bersama beberapa orang sahabat nabi lainnya yakni Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Rasulullah juga mengenal Sa’ad dengan baik. Hobinya berperang dan orangnya pemberani. Sa’ad sangat jago memanah, dan selalu berlatih sendiri.

Sa’ad adalah orang pertama yang melepaskan anak panah dalam perang yang dilakukan umat Islam. Dia juga orang pertama yang terkena panah. Dia juga adalah satu-satunya orang yang ditebus oleh Rasulullah dengan tebusan kedua orang tuanya.

Dalam Perang Uhud, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Panahlah, wahai Sa’ad! Ayah dan ibuku menjadi jaminan bagimu.”

Sa’ad bin Abi Waqqash juga dikenal sebagai seorang sahabat yang doanya senantiasa dikabulkan Allah. Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.”

Sepeninggal Nabi Muhammad SAW pada 632, ia terus berjuang atas nama Islam, salah satunya berperan dalam penaklukkan Kekaisaran Sasaniyah di Persia. Kemenangannya dalam Perang Qadisiah tersebut kemudian membuka jalan dakwah Islam di wilayah Persia.

Kemudian, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Sa’ad diangkat menjadi panglima perang. Ia kembali ditugaskan ke berbagai pertempuran untuk meluaskan wilayah Khulafaur Rasyidin dan menyebarkan agama Islam.

Sa’ad juga diyakini sebagai sahabat Nabi Muhammad SAW yang menyebarkan Islam dan menjadi mubaligh di China. Pada tahun 651, Sa’ad disebut pernah menyebarkan Islam di dataran China, yang kala itu berada di bawah kekuasaan Kaisar Yong Hui dari Dinasti Tang.

Dakwah Sa’ad bin Abi Waqqash di China dibernarkan oleh suku Muslim Hui di China dan dibuktikan dengan adanya Masjid Agung Huasisheng atau Masjid Sa’ad bin Abi Waqqash. Masjid di wilayah Guangzhou itu dikenal sebagai masjid tertua yang ada di daratan China.

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa’ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki usia 80 tahun. Dalam keadaan sakit, Sa’ad berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar—perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin.

Pahlawan perkasa ini menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada.

Wallahu A’Lam Bishawb

Farrel Dimas Saputra

Share
Published by
Farrel Dimas Saputra

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago