IBNU - KHALDUN
PROGRESIF EDITORIAL – Siapa sih yang tidak kenal Ibnu Khaldun? Meskipun namanya mungkin tidak sepopuler para filsuf Barat seperti Plato atau Aristoteles, ia adalah seorang jenius dari dunia Islam yang pemikirannya sangat, sangat, jauh ke depan. Bayangkan, hidup di abad ke-14, ia sudah memikirkan hal-hal yang baru dikaji oleh para ilmuwan modern berabad-abad kemudian. Pria asal Tunisia ini bukan hanya seorang sejarawan, melainkan juga seorang pendiri ilmu sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang paling fenomenal? Tentu saja, Muqaddimah.
Awalnya, Muqaddimah hanya sebuah pendahuluan untuk buku sejarah yang lebih besar. Tapi, isinya sungguh luar biasa. Di dalamnya, Ibnu Khaldun tidak hanya mencatat tanggal dan nama raja, ia malah mencoba mencari tahu kenapa sesuatu terjadi. Ia seperti seorang detektif yang ingin memahami pola di balik kebangkitan dan keruntuhan sebuah peradaban. Ia berpendapat bahwa sejarah bukanlah sekadar kisah tentang para pahlawan, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara manusia, masyarakat, dan lingkungan.
Salah satu idenya yang paling terkenal adalah ‘Asabiyah, yang bisa kita artikan sebagai “solidaritas kelompok” atau “rasa persatuan”. Menurutnya, ‘Asabiyah inilah yang membuat sebuah kelompok—misalnya suku nomaden di gurun—bisa bersatu dan menaklukkan sebuah kekaisaran yang sudah mapan. Tapi, seiring waktu, begitu mereka menikmati kemewahan dan hidup nyaman, ‘Asabiyah mereka akan luntur. Mereka menjadi lemah, dan akhirnya, mereka akan ditaklukkan oleh kelompok lain yang punya ‘Asabiyah lebih kuat. Kedengarannya familiar, kan? Ini adalah siklus yang terus berulang dalam sejarah.
Selain itu, Ibnu Khaldun juga sudah berbicara tentang ekonomi. Ia percaya bahwa sebuah negara akan makmur jika ada pembagian kerja yang jelas dan bahwa pajak yang terlalu tinggi bisa merusak perekonomian. Pikirannya ini muncul jauh sebelum Adam Smith—bapak ekonomi modern—lahir. Luar biasa, bukan?
Meskipun Muqaddimah sempat “tidur” selama berabad-abad, kini karya ini dianggap sebagai salah satu buku terpenting sepanjang masa. Para sosiolog modern menganggapnya sebagai “bapak sosiologi” karena metodenya yang ilmiah dalam menganalisis masyarakat. Demikian pula, para sejarawan melihatnya sebagai pelopor dalam pendekatan kritis terhadap sejarah.
Hingga hari ini, pemikiran Ibnu Khaldun masih relevan. Konsep ‘Asabiyah-nya masih bisa kita gunakan untuk memahami konflik atau dinamika sosial di berbagai belahan dunia. Ia mengajarkan kita untuk tidak hanya membaca sejarah, tapi juga memahaminya secara mendalam. Ia adalah seorang pemikir lintas disiplin yang meninggalkan warisan abadi, dan yang paling penting, ia membuktikan bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas waktu dan tempat.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
“Wallahu a’lam bishawab”
“Dan Allah Maha Mengetahui (kebenaran yang) sesungguhnya”.
PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…
PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…
ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…
PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…
PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…
PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…