Categories: Seputar Islam

Sejarah dan Niat Shalat Tarawih

Masuknya bulan Ramadhan, umat muslim pasti akan melaksanakan ibadah puasa Ramdhan dan shalat Tarawih, walaupun shalat Tarawih merupakan ibadah yang sunnah, tetapi Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat Tarawih namun tidak sebanyak 20 rakaat. Akan tetapi, saat zamannya kepemimpinan sahabat nabi, mereka menyuruh umat islam melaksanakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat karena terdapat sejarah yang masib belum banyak orang ketahui

Jadi, sejarah dari shalat Tarawih itu gimana sih? Pada saat bulan Ramdhan, Nabi Muhammad melaksanakan tarawih hanyalah selama 3 haari saja yakni pada tanggal 23,25,27, setelah itu nabi Muhammad tidak melaksanakan shalat tarawih kembali

Pada malam pertama, Nabi Muhammad melaksanakn shalat tarawih sebanyak 6 rakaat lalu melengkapi sebanyak 20 rakaat di rumahnya diri sendiri, pada malam tersebut masih dikit para sahabat yang mengikuti shalat tarawih. Pada malam kedua, nabi Muhammad sudah banyak orang-orang yang mengikuti shalat Tarawih bersama nabi Muhammad. Lalu pada malam ketiga, masjid yang setiap hari sebagai tempat ibadah umat Muslim penuh karena saking banyaknya orang yang mengikuti shalat Tarawih.

Lalu kenapa Nabi Muhammad shalat Tarawih hanya selama 3 hari saja? Karena nabi Muhammad khawatir bahwa shalat tarawih akan dinggap para sahabt akan menjadi ibadah wajib saat bulan Ramadhan

Setelah nabi Muhammad wafat, pada zaman kepemimpinan Umar bin Khattab prosedur shalat Tarawih diubah, yang awalnya melaksanakan di masjid sebanyak 6 rakaat menjadi 20 rakaat beserta shalat witir sebanyak 3 rakaat

Adapaun niat dari shalat Tarawih yakni:

Niat sholat tarawih sebagai makmum

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat tarawihi rak’atayni mustaqbilal qiblati ada’an ma’muman lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku menyengaja sembahyang sunah tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT.”

Farrel Dimas Saputra

Share
Published by
Farrel Dimas Saputra

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago