Categories: Tokoh

Umar Bin Abdul Aziz, Khalifah Antikorup sekaligus Cicit Umar Bin Khattab

Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah kedelapan dari 14 khalifah yang memimpin Bani Umayyah. Kepemimpinannya dianggap yang paling sukses di sepanjang kekhalifahan. Bahkan, Umar bin Abdul Aziz sampai mendapatkan gelar Khalifah Rasyid yang ke lima karena memerintah sesuai dengan sistem Khulafaur Rasyidin. 

Tidak terlalu berlebihan jika menyebut Khalifah Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah tersukses di sepanjang sejarah kekhalifahan. Sebab, di bawah kepemimpinannya, rakyat menjadi semakin sejahtera karena pajak semakin ringan, serta pembangunan infrastruktur yang mendukung aktivitas ekonomi.

Umar bin Abdul Aziz juga merupakan sosok pemimpin yang sangat menentang tindak korupsi. Bahkan, Khalifah umar bin Abdul Aziz sampai mau mengembalikan harta hasil tindak korupsi dari pemerintah sebelumnya. Tentu saja, sosok Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok yang wajib diteladani oleh siapa pun, terutama bagi para pemimpin yang memegang amanah untuk memerintah sebuah negara.

Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah pada 2 November 682 Masehi atau 26 Safar 63 Hijriyah. Ayah Umar bernama Abdul Aziz bin Marwan yang merupakan keturunan Bani Umayyah. Sedangkan ibunya adalah Ummu Ashim atau Laila yang merupakan cucu dari Umar bin Khattab. Laila adalah cucu Umar bin Khattab yang bernama Ashim bin Umar. Ashim menikah dengan seorang penjual susu bernama Ummu Ammarah.

Banyak ahli sejarah mengungkapkan bahwa Umar bin Abdul Aziz lahir di di Hulwan, sebuah desa di Mesir, tahun 61 H atau sekitar 681 M. Umar bin abdul Aziz besar di lingkungan istana, di mana dia hidup dengan kekayaan yang melimpah.

Meski demikian, kedua orang tua Umar bin Abdul Aziz tidak lupa untuk membekalinya dengan ilmu agama. Ayahandanya mengirim Umar ke Madinah untuk berguru kepada Ubaidillah bin Abdullah. Bahkan sejak kecil, Umar bin Abdul Aziz bergaul dengan para pemuka agama, ahli fikih, dan ulama.

Ketika ayahnya meninggal dunia, Umar bin Abdul Aziz diminta untuk datang ke Damaskus. Di sana dia dinikahkan dengan Fathimah, putri dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Setelah itu, ketika Abdul Malik bin Marwan meninggal, kekhalifahan diwariskan kepada Al-Walid bin Abdul Malik.

Kemudian pada tahun 86 H, Khalifah Al-Walid mengangkat Umar bin abdul Aziz sebagai Gubernur Madinah. Namun, pada tahun 93 H Khalifah Al-Walid memberhentikannya karena kebijakan Umar tidak sejalan dengan kebijakannya.

Al-Walid juga berusaha mencopot kedudukan saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik, dari posisi Putra Mahkota. Ia ingin anaknya yang menjadi Putra Mahkota. Namun, Umar bin Abdul Aziz menolak, yang menyebabkannya dijebloskan ke dalam penjara sempit dengan jendela tertutup.

Setelah dikurung tiga hari, Umar bin Abdul Aziz dibebaskan dalam kondisi memprihatinkan. kemudian Sulaiman bin Abdul Malik berwasiat bahwa selanjutnya yang akan menggantikan posisinya adalah Umar bin Abdul Aziz.

Page: 1 2

Farrel Dimas Saputra

Share
Published by
Farrel Dimas Saputra

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago