Categories: Seputar Islam

Ziarah Kubur setelah Shalat Idul Adha, Bagaimanakah Hukumnya?

PROGRESIF EDITORIAL – Seiring berjalannya waktu, sejarah tentang Ibrahim dan sang anak yang selalu terabadikan dalam catatan dan tinta emas. Tentang bagaimana keikhlasan seorang Ismail AS dan ketabahan hati seorang Rasul Allah; Nabi Ibrahim. Kisah tersebut akan selalu menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia.

Tibalah saatnya kita memasuki bulan Dzulhijjah, yang berarti disunnahkan untuk berpuasa dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha. Banyak tradisi dan adat yang biasa dilakukan oleh umat islam untuk menyambut hari raya Idul Adha, salah satunya adalah tradisi mendoakan orang yang sudah tiada atau yang biasa kita sebut ziarah kubur. Lantas bagaimanakah hukum melakukan ziarah kubur setelah melaksanakan shalat Idul Adha?

Tradisi mendoakan anggota keluarga dan kerabat yang sudah meninggal dunia tidak hanya terjadi pada Hari Raya Idul Fitri, sebagian warga ada juga yang melaksanakan ziarah kubur saat Hari Raya Idul Adha. Meskipun hal ini seringkali dianggap hanya sebagai tradisi atau ritual tradisional.

Di kebudayaan klasik Yunani dan Romawi kuno, ziarah kubur dikenal dengan istilah memento mori, yang secara harfiah berarti ‘ingatlah akan kematian’. Hal ini berimplikasi bahwa praktik ini memiliki manfaat evolusioner, karena masih dapat bertahan hingga era modern.
Berangkat dari hadist di bawah ini, maka hukum berziarah kubur setelah shalat ied hukumnya di perbolehkan dan bahkan di sunnahkan

حدَّثنا مُحَمَّدٌ قَالَ أخبرنَا أبُو تُمَيْلَةَ يحْيى بنُ وَاضِحٍ عنْ فُلَيْحِ بنِ سُلَيْمَانَ عنْ سَعِيدِ بنِ الحَارِثِ عنْ جابِرٍ قَالَ كانَ النبيُّ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم إذَا كانَ يَوْمُ عِيدٍ خالَفَ الطَّرِيقَ

Ibnu Hajar al-Asqolani di dalam Kitab Fathul Bari mengomentari hadits tersebut, maksud Rasulullah tidak lewat di jalan yang sama ketika berangkat ke tempat sholat ied adalah kesunnahan mengunjungi kerabat, baik kerabat yang masih hidup ataupun kerabat yang sudah tiada

فِي رِوَايَةِ الشَّافِعِيِّ مِنْ طَرِيقِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْطَبِ مُرْسَلًا أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْدُو يَوْمَ الْعِيدِ إِلَى الْمُصَلَّى مِنَ الطَّرِيقِ الْأَعْظَمِ وَيَرْجِعُ مِنَ الطَّرِيقِ الْأُخْرَى وَهَذَا لَوْ ثَبَتَ لقوى بحث بن التِّينِ وَقِيلَ فَعَلَ ذَلِكَ لِيَعُمَّهُمْ فِي السُّرُورِ بِهِ أَوِ التَّبَرُّكِ بِمُرُورِهِ وَبِرُؤْيَتِهِ وَالِانْتِفَاعِ بِهِ فِي قَضَاءِ حَوَائِجِهِمْ فِي الِاسْتِفْتَاءِ أَوِ التَّعَلُّمِ وَالِاقْتِدَاءِ وَالِاسْتِرْشَادِ أَوِ الصَّدَقَةِ أَوِ السَّلَامِ عَلَيْهِمْ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَقِيلَ لِيَزُورَ أَقَارِبَهُ الْأَحْيَاءَ وَالْأَمْوَاتَ

[ابن حجر العسقلاني، فتح الباري لابن حجر، ٤٧٣/٢]

Lalu adat yang sudah sangat kental di kalangan masyarakat ‘awam pada umumnya, yakni Ziarah Kubur setelah Sholat Ied itu dianggap adat yang baik sebagaimana di tegaskan oleh Syaikh Atiyah Shaqar di dalam Kitab Fatawa Darul Iftha’, pendapat beliau (Syaikh Athiyah Shaqar salah satu Mufti Darul iftha’) di perbolehkan nya Ziarah Kubur setelah sholat ied dengan catatan:

– Dijadikan pelajaran dan mengingat orang yang sudah meninggal
– Memintakan rahmat dan mendoakan orang yang sudah meninggal

كثير من المسلمين يحرصون على زيارة المقابر عقب صلاة العيد، فما مدى مشروعية هذه الزيارة؟
صلى الله عليه وسلمn زيارة المقابر فى الأصل سنة لأنها تُذكر الإنسان بالآخرة، وقد جاء فى ذلك حديث النبى صلى الله عليه وسلم كما رواه مسلم عن أبى هريرة رضى الله عنه قال: زار النبى صلى الله عليه وسلم قبر أمه فبكى وأبكى من حوله فقال “استأذنت ربى فى أن أستغفر لها فلم يؤذن لى، واستأذنته فى أن أزور قبرها فأذن لى، فزوروا القبور فإنها تذكر الموت ” وروى ابن ماجه بإسناد صحيح قوله صلى الله عليه وسلم “كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروا القبور فإنها تزهد فى الدنيا وتذكر الآخرة.
وليس لهذه الزيارة وقت معين وإن كان بعض العلماء يجعل ثوابها أكبر فى أيام معينة كيوم الخميس والجمعة لشدة اتصال الأرواح بالموتى، وإن كان – الدليل على ذلك غير قوى، ومن هنا نعلم أن زيارة الناس للمقابر عقب صلاة العيد إن كانت للموعظة وتذكر من ماتوا وكانوا معهم فى الأعياد ينعمون بحياتهم، وطلب الرحمة لهم بالدعاء فلا بأس بذلك أبدا للرجال، أما النساء فقد مر حكم زيارتهن للمقابر فى صفحة 588من المجلد الأول من هذه الفتاوى.
أما إذا كانت الزيارة بعد صلاة العيد لتجديد الأحزان ولتقبل العزاء على القبر أو إقامة سرادق أو تهيئة مكان لذلك فهو مكروه، لأن التعزية بعد دفن الميت بثلاثة أيام ممنوعة على جهة الحرمة أو الكراهة. ولأنة يوم عيد وفرح وسرور فينبغى عدم إثارة الأحزان فيه

[مجموعة من المؤلفين، فتاوى دار الإفتاء المصرية، ٣٩١/٨]

[zed/zed]

Gading Martin

Share
Published by
Gading Martin

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago