Categories: Dawuh Kyai

Alasan Gus Baha Senang Mengajar

PROGRESIF EDITORIAL – Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan alasaan senang mengajar beserta keutamaan menjadi seorang guru.

Hal ini disampaikannya saat kajian rutin tafsir jalalain di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA) Narukan Rembang Jawa Tengah, Rabu (18/01/2023)

“Menurut saya paling selamat itu mengajar, titik. Percaya saya. Saya paling senang mengajar. Maka ketika saya boleh memilih maka saya milih mengajar,” jelasnya.

Menurutnya, mengajar bearti menyebarkan ilmunya Allah dan melakukan sesuatu untuk kepentingan orang banyak. Mengajar adalah tradisi para nabi.

Gus Baha lalu bercerita di mukadimah Ihya Ulumuddin ada kisah ketika Nabi Muhammad datang ke masjid lalu ada satu kolompok yang wiridan, minta-minta ke Allah. Sedangkan yang satunya ngajar.

Lalu Nabi Muhammad gabung ke kelompok yang mengajarkan ilmu Allah, halal haram, dan bahas aturan Allah. Sementara yang doa, bahas diri sendiri. Sibuk kepentingan pribadi.

“Ketika mengajar Al-Qur’an maka nanti orang tahu hukumnya Allah. Sehingga bisa diterapkan di kehidupan masyarakat. Mengajarkan sesuatu yang abadi manfaatnya,” imbuh Gus Baha.

Menurut Gus Baha, orang mengajar lebih mulia dari pada seseorang yang hanya wiridan minta ampun kepada Allah. Oleh karenanya, tidak mungkin orang istighfar mengalahkan orang mengajar ilmunya Allah.

Siapapun yang mengajar, meskipun tanpa baca istighfar, ia sudah dimintakan ampunan oleh makhluk langit dan bumi. Kalau semisal di langit diwakili oleh Jibril dan di bumi diwakili oleh nabi untuk minta ampunan. Maka pasti diampuni oleh Allah. Orang yang membully orang alim tidak diberikan ilmu dan keberkahan.

“Kamu istighfar, bagus istighfar, tapi tetap untuk keuntungan pribadi. Ada keinginan masuk surga dan lainnya. Tidak keinginan untuk memuliakan Allah,” kata Gus Baha.

Bagi Gus Baha, mengajar lebih diutamakan nabi karena orang mengajar menerangkan siapa itu Allah, dijelaskan Allah adalah Tuhan. Menjelaskan nabi itu siapa, nabi adalah orang yang menjelaskan ayat Allah.

Ketika melakukan ini, Allah akan terharu karena seseorang selalu membahas Allah dan kekasih-Nya, tidak bahas dirinya pribadi. Kalau istighfar banyaknya kepentingan pribadi.

“Kamu bahas dirimu belum tentu benar. Namun, ketika mengajar seperti tafsir maka yang dibahas adalah hukumnya Allah. Pasti benar,” tegasnya.

Gus Baha mengingatkan, dalam mengajar jangan berpikir yang aneh-aneh. Fokus pada mengajar saja. Tidak penting masuk surga atau neraka, karena mengajar adalah perbuatan baik. Ketika tidak ada yang mengajarkan Al-Qur’an maka tidak bisa dibayangkan bagaimana dunia ini.

“Mengajar ya mengajar saja, jangan minta fasilitas yang aneh-aneh. Namun, mengajar di sini bagi orang yang bisa mengajar. Tidak sesat menyesatkan,” tandasnya.

Syarif Abdurrahman

Santri yang belajar Islam. Instagram @berruang.aja

Share
Published by
Syarif Abdurrahman

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago