Teman Musyrik/Freepik
PROGRESIF EDITORIAL – Salah satu ujian terbesar dalam kehidupan seorang Muslim adalah ketika orang terdekatnya, seperti sahabat, tergelincir dalam kesyirikan. Musyrik adalah seseorang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, baik dalam ibadah, keyakinan, atau perbuatan. Dalam Islam, syirik adalah dosa besar yang tidak terampuni jika seseorang meninggal dalam keadaan belum bertobat.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”
(QS. An-Nisa: 48)
Lalu, bagaimana sikap kita jika sahabat kita terjerumus dalam kesyirikan? Artikel ini akan membahas langkah-langkah yang harus kita ambil berdasarkan Al-Qur’an, hadis sahih, dan pandangan ulama.
Syirik secara umum terbagi menjadi dua:
Syirik akbar adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain dalam aspek tauhid (keesaan Allah). Ini termasuk:
Dampak dari syirik akbar sangat berat:
Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum kamu, ‘Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.'”
(QS. Az-Zumar: 65)
Syirik kecil adalah tindakan atau perkataan yang mengandung unsur syirik tetapi tidak sampai mengeluarkan seseorang dari Islam. Contohnya:
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Riya’ (pamer dalam ibadah). Allah akan berkata pada hari kiamat, ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dulu kalian ingin mereka melihat amal kalian, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?'”
(HR. Ahmad, no. 23630, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Kesyirikan bisa terjadi karena:
Oleh karena itu, jangan langsung menghakimi sahabat kita sebagai kafir. Islam mengajarkan untuk memahami situasi terlebih dahulu.
Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Cara terbaik mengajak sahabat kembali ke jalan tauhid adalah dengan:
Nabi Ibrahim AS berdoa untuk kaumnya yang terjerumus dalam kesyirikan:
“Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku serta anak cucuku dari menyembah berhala.”
(QS. Ibrahim: 35)
Jika Nabi Ibrahim AS pun berdoa agar dijauhkan dari syirik, maka kita juga harus mendoakan sahabat kita agar Allah memberikan hidayah.
Jika setelah dinasihati dengan baik sahabat kita tetap teguh dalam kesyirikan, maka ada dua langkah yang bisa diambil:
Allah SWT berfirman:
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim setelah teringat.”
(QS. Al-An’am: 68)
Namun, menjaga jarak bukan berarti memutus tali silaturahmi sepenuhnya. Kita tetap bisa menjalin hubungan baik dengan harapan suatu saat dia akan kembali kepada tauhid yang benar.
Islam tidak melarang berteman dengan non-Muslim atau orang yang melakukan kesyirikan, asalkan kita tidak mengikuti kesesatan mereka.
Allah SWT berfirman:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
(QS. Al-Mumtahanah: 8)
Namun, kita harus berhati-hati agar tidak terpengaruh oleh mereka. Jika persahabatan dengan orang musyrik berpotensi melemahkan iman, maka lebih baik menjaga jarak secara bijak.
Ketika sahabat kita terjerumus dalam kesyirikan, kita harus tetap bersikap lembut dan mengedepankan hikmah dalam mengajaknya kembali kepada tauhid. Jangan langsung menghakimi atau memutus hubungan tanpa alasan yang jelas.
Tetaplah berdoa dan berusaha, karena hidayah ada di tangan Allah SWT. Jika mereka tetap dalam kesyirikan, kita bisa menjaga jarak tanpa harus memusuhi mereka.
Semoga Allah selalu meneguhkan hati kita di atas tauhid dan menjauhkan kita dari segala bentuk kesyirikan. Aamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Page: 1 2
PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…
PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…
ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…
PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…
PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…
PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…