Categories: RagamSeputar Islam

Dakwah damai dan kekinian lewat syair ala Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf

PROGRESIF EDITORIAL – Pembahasan tentang peran musik dan lagu dalam Islam masih menarik perhatian, karena terus menjadi bahan perdebatan meskipun telah ada berbagai pandangan dari para Ulama’. Ada musisi yang mengalami dilema antara hasrat bermusik dan keyakinan keagamaan, sehingga ada yang memilih meninggalkan dunia musik sepenuhnya karena menganggapnya diharamkan atau sia-sia.

Namun demikian, ada juga musisi yang berusaha menemukan keseimbangan antara keislaman dan musik, seperti yang dilakukan oleh Komuji (Komunitas Musisi Mengaji) di Bandung dan Jakarta. Beberapa musisi menggunakan musik sebagai sarana untuk menyampaikan pesan keislaman dan sebagai kritik terhadap masalah sosial dengan sudut pandang aktivisme Islam.

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, seorang Habib dan munsyid terkenal, memberikan nasihat bijak tentang peran lagu dalam dakwah. Beliau mengatakan bahwa dakwah melalui lagu sering kali lebih efektif daripada ceramah biasa, karena lagu-lagu dapat lebih mudah diingat dan membekas dalam pikiran.

Nasihat Habib Syech ini dipahami mengingat pengalamannya dalam membangun majelis shalawat yang dihadiri ribuan orang. Beliau berharap agar dakwah melalui lagu dapat terus dilanjutkan untuk menyebarkan ajaran Ahlussunnah wal jamaah di seluruh dunia dengan cara yang indah dan santai. Uniknya kini Habib Syech juga memanfaatkan media baru seperti TikTok dengan melakukan siaran langsung serta berinteraksi dengan penonton. Tidak diragukan media sosial milik Habib Syech telah diikuti oleh Jutaan orang.

Para Habaib, sebagai keturunan Rasulullah SAW, secara tradisional tidak lepas dari penggunaan syair, musik, dan lagu dalam menyebarkan dakwah Islam. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia untuk mencintai keindahan, sebagaimana yang dipahami oleh Prof. Quraish Shihab. Namun, perlu diingat bahwa keindahan tersebut tidak boleh mengarahkan manusia kepada kesesatan, seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali.

Imam Al-Ghazali memperbolehkan musik secara umum, dengan pengecualian dalam konteks yang mengandung dampak negatif atau dapat menyebabkan pelanggaran terhadap kewajiban agama. Ulama yang melarang musik umumnya mengkhawatirkan bahwa musik dapat mengalihkan perhatian dari hal-hal penting atau dapat digunakan untuk tujuan yang buruk. Namun, pada dasarnya, alat musik tidak dilarang secara langsung, melainkan penggunaannya yang harus dipertimbangkan.

Saksikan berbagai lantunan shalawat dalam segmen Senandung Santri hanya di Progresif TV

*) Editor : Aqila Nur Rahmalia

Arundaya Maulana

Share
Published by
Arundaya Maulana

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

3 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago