Categories: Seputar Islam

Gaya hidup minimalisme, keserderhanaan dalam islam

PROGRESIF EDITORIAL – ‘Minimalisme’ adalah gerakan yang cukup populer di era modern sebagai bentuk antitesa dari kehidupan materialistik dan konsumtif. Minimalisme adalah suatu konsep atau gaya hidup yang menekankan pada kesederhanaan dan pemusatan pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup. Ide dasar dari minimalisme adalah mengurangi segala sesuatu yang tidak diperlukan atau tidak memberikan nilai tambah dalam hidup, sehingga seseorang dapat fokus pada hal-hal yang benar-benar penting bagi mereka.

Meskipun tidak secara khusus disebutkan namun gerakan ini kemudian sejalan dengan prinsip-prinsip seperti kesederhanaan, keadilan sosial, dan kepedulian terhadap sesama dapat ditemukan dalam ajaran agama Islam. Salah satunya dapat diambil contoh dari kisah tentang kesederhanaan Rasulullah SAW yang tercatat dalam sebuah hadist yang menggambarkan bahwa beliau tidak memiliki keinginan untuk mengumpulkan kekayaan, meskipun sebenarnya hal itu sangat mudah baginya jika diinginkan.

Dilansir dari Nu Online, Ketika Islam telah berkembang dan kaum Muslimin telah meraih kemakmuran, Umar bin Khattab RA mengunjungi rumah Rasulullah SAW. Setelah memasuki rumah tersebut, Umar bin Khattab terkejut saat melihat interior rumah beliau, hanya terdapat sebuah meja, dan alasnya terbuat dari jalinan daun kurma yang kasar yang tergantung di dinding hanyalah sebatang geriba (tempat air) yang biasa beliau gunakan untuk berwudhu. Dalam kesempatan yang sama Rasulullah kemudian menjelaskan

“Hai Umar, saya adalah Rasul Allah, bukan seorang Kaisar Romawi atau Kisra Persia. Mereka hanya mengejar kenikmatan dunia, sementara saya mengutamakan kehidupan akhirat.Pesan yang diungkapkan oleh Rasulullah sangat jelas, yaitu bahwa hidup dalam kemewahan dan kekayaan tidak selalu berarti hidup yang bermutu; sebaliknya, seringkali hal itu membuat hidup terasa hampa dan sunyi” dikutip dari Ibnu Jauzi dalam Al – Wafa.

Kemudian islam mengenalkan berbagai amalan yang dekat dengan konsep keserdehanaan, misalnya Islam juga mendorong umatnya untuk memberikan zakat dan infaq sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Prinsip ini melibatkan berbagi dengan mereka yang kurang beruntung dan memastikan bahwa harta benda tidak menjadi pusat perhatian utama dalam kehidupan. Selain itu Islam mendorong umatnya untuk hidup sederhana dan tidak mubadzir (boros). Penggunaan harta benda dan sumber daya harus dilakukan dengan penuh pertimbangan, dan umat diajarkan untuk tidak terlalu mencintai dunia dan materinya namun lebih berfokus pada kehidupan akhirat yang kekal.

Aqila Nur Rahmalia

Write in to the beyond

Share
Published by
Aqila Nur Rahmalia

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

3 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago