Categories: Opini

Jangan Sekali-kali Membanggakan Nasab

Beberapa orang pernah berkata pada saya, “Kamu tau, ga?. Mbahku ternyata orang besar, lho!.”, “Aku aslinya keturunan raja, lho!”, “Bapakku ternyata habib, lho!.”, dan semacamnya.

Lalu, nalar saya bekerja. Pertanyaan akan apa maksud dan tujuan dari ucapan mereka terus muncul dan memutari pikiran saya setiap harinya.

Saya teringat kisah dari 2 ulama junjungan generasi saat ini, R. KH. Muhammad Ismael Amin al-Kholili (Lora Ismael) dan KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha). Kedua ulama ini memang sedang naik daun karena kepribadiannya yang sangat rendah hati dan membumi.

Page: 1 2 3

Abdul Wahid Tamimi

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago