Categories: Tokoh

Kisah Uwais Al-Qarnain, Pemuda Berbakti yang dirindukan Surga

PROGRESIF EDITORIAL- Uwais Al-Qarni merupakan seorang pemuda dari Yaman yang hidup yatim sejak lama. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua renta. Menurut Aminudin dan Harjan Syuhada dalam buku Al-Qur’an Hadis, untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing.

Menjadi penggembala kambing tak membuat Uwais melupakan kewajibannya dalam beribadah. Bahkan, ia dikenal sebagai pemuda yang amat patuh kepada Allah SWT. Pada siang hari, ia berpuasa dan pada malam harinya ia bermunajat kepada Allah SWT.

Upah yang ia dapatkan juga tidak seberapa. Sekadar cukup untuk makan sehari-hari dengan ibunya. Setiap kali ada sisa, uang tersebut ia gunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dirinya.

Karena sang ayah meninggal saat usianya masih kecil, ia dibesarkan sendiri oleh ibunya. Uwais Al Qarni dan sang ibu termasuk golongan pertama yang masuk Islam ajaran Nabi Muhammad sampai ke Yaman.

Uwais Al Qarni tumbuh menjadi sosok yang sangat berbakti dan memuliakan ibunya yang telah tua dan lumpuh. Meski hidup sezaman dengan Nabi, Uwais Al Qarni tidak pernah memiliki kesempatan bertemu Nabi Muhammad.

Salah satu alasannya adalah karena ia selalu mengutamakan sang ibu, yang hanya bergantung padanya. Pernah pada suatu ketika, ia sangat ingin bertemu Nabi yang berada di Madinah. Uwais Al Qarni pun meminta izin kepada ibunya agar direstui pergi untuk menemui Nabi Muhammad.
Ibunya memberi izin, tetapi berpesan agar segera kembali ke Yaman setelah bertemu dengan Nabi Muhammad. Uwais Al Qarni lantas bertolak dari Yaman ke Madinah, yang jaraknya sangat jauh. Sayangnya, ia gagal menemui Nabi, yang saat itu tengah pergi berperang.

Ia hanya bertemu dengan Aisyah, istri Nabi Muhammad dan menitipkan salam untuk Nabi. Setelah itu, Uwais Al Qarni segera pulang dan kembali ke ibunya.

Page: 1 2

Farrel Dimas Saputra

Share
Published by
Farrel Dimas Saputra

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

4 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago