Categories: BeritaSeputar Islam

Merawat Alam untuk Datangnya Hujan, Muhasabah dengan Shalat Istisqa’

Santri Pesantren Bumi Shalawat melaksanakan Sholat Istisqa berjamaah pada 23 Oktober 2023

Saat ini, hampir seluruh wilayah di Indonesia belum tersentuh air hujan. Hal ini telah sampaikan oleh BMKG, diperkirakan musim hujan di Indonesia akan datang pada bulan November 2023. Keterlambatan ini bisa menjadi peringatan bagi Manusia untuk kembali bermuhasabah, memohon petunjuk dan perlindungan Allah SWT untuk segera menurunkan hujan di muka bumi ini. Perlu disadari, bahwa Manusialah yang menjadi penyebab ketidakseimbangan alam saat ini, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat QS Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” 

Panjangnya masa kemarau yang kita alami saat ini harus menjadi alasan bagi kita untuk melakukan introspeksi. Cuaca yang semakin tidak terduga membuat siklus antara musim hujan dan kemarau sulit diprediksi. Hal ini terjadi karena deforestasi yang semakin meningkat, dengan pegunungan yang terus-menerus dijarah dan lahan yang menjadi tandus akibat penebangan pohon yang semakin meluas dan tanpa aturan. Ketika musim hujan datang, ancaman bencana seperti tanah longsor muncul karena kurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air, serta kurangnya pohon yang bisa memperkuat tanah, sehingga air mengalir cepat dan menyebabkan banjir.

Situasi ini diperparah oleh tingginya jumlah sampah dan kurangnya kesadaran manusia dalam pengelolaannya. Semua masalah ini saling terkait dan berdampak negatif pada kita. Oleh karena itu, diperlukan komitmen kita untuk menjaga alam ini, sehingga air tetap mengalir dan memberikan berkah bagi alam semesta. Salah satu tindakan yang dapat kita lakukan adalah menghindari penebangan pohon sembarangan dan meningkatkan upaya reboisasi untuk menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus menjalankan ibadah sedekah kepada makhluk lain seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah bersabda :


مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

Artinya :

“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon kecuali buah yang dimakannya menjadi sedekah, yang dicuri menjadi sedekah, yang dimakan binatang buas adalah sedekah, yang dimakan burung adalah sedekah, dan tidak diambil seseorang kecuali menjadi sedekah”

Dalam menghadapi situasi ini, para Ulama menganjurkan untuk melaksanakan sholat Istisqa, dalam Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah pada Hamisy Busyral Karim, Syekh Abdullah Bafadhal Al-Hadhrami menyebutkan bahwa shalat istisqa dilakukan seperti Shalat Id, namun cara shalatnya sedikit berbeda pada penempatan khutbahnya. embacaan takbir, dan arah khatib pada khutbah kedua. Selebihnya kedua shalat ini secara umum sama. Akan tetapi Shalat Istisqa’ perlu dibarengi dengan upaya penjagaan yang lebih serius dengan melakukan penjagaan Linkungan, misalnya dengan mengurangi pengggunaan plastik, melakukan aktifitas ekonomi sirkular sehari – hari, meperbanyak penanaman pohon, berhemat air bersih dan lain sebagainya.

Dilansir pada kajian nuonline.id, berikut adalah tata cara shalat istisqa;

  1. Shalat dua rakaat.
  2. Rakaat pertama takbir tujuh kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  3. Rakaat kedua takbir lima kali sebelum membaca surat Al-Fatihah.
  4. Khutbah dua atau sekali sebelum (atau setelah) shalat. Khutbah setelah shalat lebih utama.
  5. Sebelum masuk khutbah pertama khatib membaca istighfar sembilan kali.
  6. Sebelum masuk khutbah kedua khatib membaca istighfar tujuh kali.
  7. Perbanyak doa dalam khutbah kedua. ​​​​​​​

Sumber : nuonline.id

Aqila Nur Rahmalia

Write in to the beyond

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

5 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

5 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

5 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

5 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

5 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

5 months ago