PROGRESIF EDITORIAL – Masyarakat Jawa Timur akan menyambut Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) serentak yang akan dilaksanakan November depan (27/11/2024). Pilkada ini merupakan momen bagi masyarakat untuk memilih keterwakilan pemimpin di daerahnya baik dari Gubernur hingga Bupati atau Walikota, tak terkecuali Provinsi Jawa Timur.
Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu provinsi terbesar yang krusial di Indonesia tentu menjadi daya tarik tersendiri. Bagaimana tidak Jawa Timur memiliki peranan yang signifikan bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Sebagai provinsi dengan kontribusi sekitar 15% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, Jawa Timur menempati posisi kedua setelah DKI Jakarta dalam hal kontribusi ekonomi.
Menariknya, pemilihan Gubernur Jawa Timur (Pilkada Jatim) 2024 menjadi sorotan publik karena tiga tokoh perempuan, yaitu Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini, dan Luluk Nur Hamidah, maju sebagai calon gubernur. Fenomena ini menandai perkembangan positif dalam kesetaraan gender di Indonesia, terutama dalam konteks kepemimpinan daerah. Hal ini berbeda dari kontestasi pilkada di wilayah lainnya dimana Jawa Timur sebagai salah wilayah penting di Indonesia kini didominasi oleh para sosok pemimpin perempuan yang punya representasi yang kuat. Ketiga calon ini pun telah berkiprah sebagai tokoh pemimpin yang berprestasi di negeri ini, latar belakang mereka juga tidak bisa dianggap biasa saja.
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, berikut adalah profil calon gubernur Jawa Timur untuk Pilkada 2024:
Donimasi perempuan sebagai Bacagub Jatim jadi angin segar dalam panggung politik di negeri ini. Keterwakilan perempuan dalam kontestasi politik menjadi isu yang semakin penting dalam konteks demokrasi Indonesia. Perempuan acap kali mendapat stereotipe tertentu yang meragukan kemampuannya sebagai pemimpin. Meskipun telah ada upaya untuk meningkatkan keterwakilan perempuan melalui kebijakan kuota, tantangan yang dihadapi masih sangat signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada ketentuan yang mengharuskan 30% keterwakilan perempuan dalam legislatif, realitas di lapangan seringkali tidak mencerminkan hal tersebut. Misalnya, di beberapa daerah, keterwakilan perempuan di DPRD masih rendah, seperti yang terjadi di Sulawesi Tenggara yang hanya mencapai 17,7% (Kasim et al., 2022).
Salah satu faktor utama yang menghambat keterwakilan perempuan adalah budaya patriarki yang masih kuat dalam masyarakat Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa pandangan tradisional yang menganggap perempuan sebagai pilihan kedua dalam politik berkontribusi pada rendahnya partisipasi mereka dalam proses pengambilan keputusan (Jumanah, 2023; Yuwono, 2018). Selain itu, faktor modal juga menjadi penghalang, di mana perempuan sering kali memiliki keterbatasan finansial untuk berkampanye dan mendapatkan dukungan politik yang diperlukan.
Pilkada Jatim 2024 menjadi contoh nyata peningkatan keterwakilan perempuan dalam politik. Ketiga calon gubernur perempuan ini memiliki latar belakang yang kuat dalam politik dan kepemimpinan. Khofifah Indar Parawansa, sebagai Gubernur Jatim periode sebelumnya, telah menunjukkan kemampuan kepemimpinannya. Tri Rismaharini, sebagai Menteri Sosial dan bekas Wali Kota Surabaya, memiliki pengalaman yang luas dalam pemerintahan. Luluk Nur Hamidah, sebagai kader PKB, telah menunjukkan komitmen terhadap isu-isu perempuan dan anak
Menurut Dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga, Febby Risti Widjayanto, S.IP., M.Sc, Beberapa faktor yang mendorong peningkatan keterwakilan perempuan dalam Pilkada Jatim 2024 antara lain:
Pilkada Jatim 2024 menunjukkan peningkatan keterwakilan perempuan dalam politik, yang merupakan langkah maju dalam kesetaraan gender di Indonesia. Namun, masih ada beberapa tantangan yang dihadapi, seperti budaya patriarki, sistem partai politik, dan keterbatasan sumber daya. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keterwakilan perempuan dalam politik dan memperkuat komitmen partai-partai politik terhadap kesetaraan gender.
PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…
PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…
ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…
PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…
PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…
PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…