Madura telah dikenal sebagai kawah candradimuka yang menghasilkan berbagai cendekia. Di setiap kabupaten, selalu terdapat pesantren sederhana hingga masyhur. Sebut saja Pesantren Demangan milik Syaikhona R. KH. Muhammad Kholil di Bangkalan atau Pesantren Banyuanyar milik R. KH. Itsbat di Pamekasan.
Di Sumenep, berdiri Pesantren an-Nuqayah di Desa Luk-ghuluk. Bagaikan lentera kudus, pesantren ini menjadi rujukan ulama dan santri di timur Madura. Bahkan, pesantren tersebut akhirnya membangun jejaring kuat yang tersebar di hampir seluruh Sumenep.
Pendiri pesantren tersebut adalah R. KH. Muhammad Syarqawi, seorang ulama dari Kudus. Ia datang ke Sumenep pada abad ke-19 setelah menikahi janda almarhum KH. Abuddin Gemma. Secara nasab, R. KH. Muhammad Syarqawi adalah keturunan Sunan Kudus dengan rincian berikut:
Setibanya di Sumenep, R. KH. Muhammad Syarqawi mendirikan pesantren di Desa Prenduan. Namun, ia memindahkan pesantren tersebut ke Desa Luk-ghuluk karena dinilai lebih nyaman dan strategis untuk mengajar.
Page: 1 2
PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…
PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…
ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…
PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…
PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…
PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…