Categories: Opini

Urgensi Berpolitik Bagi Ulama

Akhir-akhir ini, semakin banyak ulama yang terjun ke dunia politik. Bahkan, terdapat puluhan hingga ratusan kepala daerah dan anggota dewan di sepanjang sejarah Indonesia yang berasal dari kalangan ulama.

Nama-nama seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur, mantan Presiden Indonesia) dan KH. Ma’ruf Amin (Wakil Presiden Indonesia) adalah sedikit dari banyaknya politisi Indonesia dari kalangan ulama.

Sebenarnya, urgensi berpolitik bagi ulama itu sangat penting. Karena mereka adalah orang yang lahir dan batinnya dimuliakan oleh Allah. Sehingga, mereka tentu dapat merumuskan kebijakan terbaik untuk negara.

Sejarah telah mencatat tentang bagaimana Rasulullah dan sahabat juga memanfaatkan politik sebagai sarana dakwah. Sehingga, lingkup penyebaran Islam semakin mudah dan luas.

Setelah Rasulullah, sistem kekhalifahan dijalankan. Khalifah awalnya dipilih melalui majelis syura dan berubah menjadi dinasti setelah kepemimpinan Muawiyah bin Abu Sufyan al-Umawi.

Seiring berjalannya waktu, kekhalifahan dikuasai secara bergantian oleh berbagai dinasti. Sistem ini berakhir pada 3 Maret 1924 dengan diturunkannya Muhammad VI bin Abdul Majid I dan Abdul Majid II bin Abdul Aziz dari kekuasaan oleh Genç Türkler pimpinan Mustafa Kemal.

Ulama di masa kekhalifahan memiliki peranan penting di berbagai bidang. Tak hanya agama, tetapi juga bidang lainnya termasuk politik. Maka, tak ayal bila posisi penting seperti wazir dan menteri di jaman tersebut diisi oleh ulama.

Di masa kini, negara yang kental akan budaya Islam seperti negara Arab dan Indonesia masih membuka jalan bagi para ulama untuk berpolitik walau tak selebar dulu. Bahkan, tak jarang beberapa pemerintahan regional dan nasional dipimpin oleh ulama.

Namun, akhir-akhir ini terdapat keresahan di masyarakat mengenai “oknum” ulama yang justru melakukan kelaliman dalam kiprahnya seperti korupsi dan penyalahgunaan jabatan.

Memang hal itu sangat jarang terjadi. Namun, hal tersebut dapat mencederai kepercayaan masyarakat akan tanggungjawab ulama dalam mengemban amanah yang telah diberikan masyarakat dengan sukarela dan sarat akan harap.

Pada akhirnya, kehadiran ulama di pentas politik amat dibutuhkan. Jika tiada ulama yang berani terjun dan hadir, maka siapa lagi wakil umat dalam membangun negara?.

Abdul Wahid Tamimi

Recent Posts

Sang Arsitek Mimpi: Kisah Humanis B.J. Habibie, Ilmuwan dengan Hati yang Melayani

PROGRESIF EDITORIAL - Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang lebih akrab disapa B.J. Habibie, adalah sosok…

3 months ago

Bukan Instan, Tapi Bertahap: Panduan Membangun Diri Sejati yang Lebih Kuat

PROGRESIF EDITORIAL - Perjalanan menuju diri yang lebih baik bukanlah perlombaan yang harus dimenangkan, melainkan…

4 months ago

Kepemimpinan Sejati: Lebih dari Sekadar Jabatan, Ia Adalah Hati yang Melayani

ROGRESIF EDITORIAL - Apa yang membedakan seorang bos dari seorang pemimpin? Jawabannya terletak pada esensi…

4 months ago

Membangun Fondasi Kesuksesan: Kekuatan Kebiasaan yang Baik

PROGRESIF EDITORIAL - Kebiasaan yang baik adalah fondasi tak terlihat yang menopang struktur kehidupan yang…

4 months ago

Melestarikan Budaya: Aksi Humanis Melindungi Jiwa Kolektif

PROGRESIF EDITORIAL - Pelestarian budaya, dalam perspektif humanis, bukanlah sekadar tugas akademis atau museum, melainkan…

4 months ago

keislaman Humanis: Membumikan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

PROGRESIF EDITORIAL - Keislaman humanis merupakan sebuah pemahaman dan praktik keberagamaan yang menekankan pada nilai-nilai…

4 months ago