Home Tokoh Ambo Dalle, Ulama Ksatria dari Bumi Daeng

Ambo Dalle, Ulama Ksatria dari Bumi Daeng

by Abdul Wahid Tamimi

PROGRESIF EDITORIAL – Makassar adalah pusat penyebaran Islam di Indonesia Timur. Berbagai kesultanan berdiri di sana dan berperan dalam pendirian Indonesia. Hingga kini, Makassar beserta Ternate menjadi rujukan utama para santri untuk belajar agama. Selain itu, banyak ulama besar yang hidup dan mengabdi di Bumi Daeng, salah satunya AG. Abdurrahman Ambo Dalle.

Anre Gurutta (AG.) Abdurrahman Ambo Dalle lahir di Wajo pada awal 1900. Lahir dari keluarga bangsawan, nama Ambo Dalle berarti “pemilik rejeki”. Sedangkan, nama Abdurrahman diberikan AG. Muhammad Ishaq. Sebagai seorang bangsawan, Ambo Dalle kecil dididik dengan disiplin. Setiap pagi dan sore, ia diberikan pendidikan agama dan formal yang seimbang.

Ambo Dalle belajar pada berbagai ulama di tanah Bugis dan Hijaz seperti AG. Syamsuddin, AG. Ambo Omme, asy-Syekh as-Sayyid Muhammad al-Jawad, asy-Syekh Ali al-Ahdal, asy-Syekh as-Sayyid Abdullah Dahlan, dan as-Syekh Hasan al-Yamani. Semangat belajar istimewa yang dilatih dengan efektif berhasil menumbuhkan jiwa ulama Ambo Dalle.

Pada 1938, Ambo Dalle diutus gurunya, AG. Muhammad As’ad Puang Aji Sade, mendirikan Pesantren Dar ad-Da’wah wa al-Irsyad di Mangkoso, 100 km di barat Wajo. Ambo Dalle membawa beberapa orang santrinya, yaitu AG. Muhammad Ambri Said, AG. Harun Rasyid, AG. Abdur Rasyid, dan lainnya. Dengan semangat menyiarkan cahaya Islam, pesantren tersebut mampu berkembang dan disegani.

Masalah mulai muncul ketika pendudukan Jepang di Indonesia. Kegiatan belajar-mengajar harus dibatasi. Namun, hal tersebut tak menyurutkan semangat Ambo Dalle. Ia memutuskan untuk membuka pengajian di dalam masjid atau rumah dengan menutup jendelanya agar cahaya lampu tak bertebaran. Keteguhannya dalam menyemai bibit generasi Islam membuat Jepang tunduk padanya.

Setelah merdeka, ujian baru mulai berdatangan. Pembantaian 40.000 warga Sulawesi Selatan oleh Raymond Westerling memukul telak Pesantren Dar ad-Da’wah wa al-Irsyad. Banyak santri yang menjadi korban keganasan tersebut. Hal tersebut membuat Ambo Dalle pindah ke Parepare. Sementara, pesantren di Mangkoso dipimpin oleh AG. Muhammad Ambri Said.

Baca Juga:  Habib Anis Al-Habsyi, Sang Mutiara Agung dari Solo

Di sana, Ambo Dalle mengembangkan sayap Pesantren Dar ad-Da’wah wa al-Irsyad ke berbagai sektor. Mulai dari Fityan ad-Da’wah wa al-Irsyad (FIDI), Fatayat ad-Da’wah wa al-Irsyad (FADI), Ummahat ad-Da’wah wa al-Irsyad (Ummahat), dan masih banyak lagi. Saat ini, organisasi tersebut masih eksis dan menjadi motor pergerakan Islam di Bumi Daeng.

Pada 1955, Ambo Dalle menjadi sasaran utama Darul Islam (DI/TII) pimpinan Abdul Kahar Muzakkar. Ia ditangkap dan dibawa ke berbagai pelosok hutan untuk menjadi penasehat gerakan tersebut. Dalam pengasingannya, Ambo Dalle membuka sekolah darurat untuk keluarga DI/TII. Setelah 8 tahun diculik, ia akhirnya dibebaskan oleh kompi tentara pimpinan Andi Patonangi dan Andi Muhammad Yusuf.

Di era Soeharto, Ambo Dalle bergabung dengan Partai Golongan Karya. Hal ini memecah Pesantren Dar ad-Da’wah wa al-Irsyad. Akhirnya, Andi Patonangi memberikan sebidang tanah di Kaballangan—sebuah desa di Pinrang—kepada Ambo Dalle untuk dijadikan cabang baru pesantrennya. Terlepas dari kontroversi politiknya, Ambo Dalle secara tidak langsung mengangkat Pesantren Dar ad-Da’wah wa al-Irsyad menjadi pesantren yang paling diperhatikan pemerintah.

Ambo Dalle menulis 25 kitab dalam berbagai ilmu. Mulai dari al-Qaul ash-Shadiq fi Ma’rifat al-Khalaqi (tasawuf), ar-Risalah al-Bahiyyah fi al-Aqa al-Islamiyyah (akidah), Maziyyah Aswaja (manhaj), al-Irsyad ash-Shalih (nahwu), dan masih banyak lagi.

Di usia senja, Ambo Dalle masih semangat dalam menyiarkan cahaya Islam. Ia masih mengajar dan menghadiri beberapa acara penting walaupun harus dituntun. Perjuangan ulama agung tersebut harus berakhir pada 28 November 1996. Jenazahnya dipulangkan ke Mangkoso dan dimakamkan di sana.

Ambo Dalle adalah ulama yang berkharisma dan santun kepada sesama. Baginya, semua orang adalah anak yang perlu mendapat bimbingan untuk kembali ke jalan-Nya. Selain itu, setiap santri memiliki keistimewaan tersendiri. Semoga kita semua mendapat berkah dari AG. Abdurrahman Ambo Dalle. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Related Posts

Leave a Comment