Selama bertahun-tahun, KH. Hasyim Asy’ari menunjukkan ketekunan yang luar biasa dalam belajar. Beliau tidak hanya mengikuti pelajaran secara pasif, tetapi juga aktif berdiskusi dan mengkaji berbagai kitab klasik. Ketekunan ini terlihat dalam upayanya untuk memahami dan menghafal berbagai teks penting dalam Islam. Proses ini tidak mudah dan memerlukan waktu yang sangat panjang, tetapi KH. Hasyim Asy’ari tetap teguh dalam usahanya.
Pada tahun 1926, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi keagamaan yang bertujuan untuk mempertahankan ajaran Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia. Pendirian NU bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan visi yang jelas, pemahaman mendalam tentang ilmu agama, serta kemampuan untuk memimpin dan mengorganisir. Semua ini merupakan hasil dari ketekunan dan latihan yang panjang dalam bidang keagamaan dan sosial.
Karya dan dedikasi KH. Hasyim Asy’ari terus hidup hingga hari ini. Nahdlatul Ulama menjadi salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia dengan jutaan anggota. Pemikiran dan ajaran beliau terus mempengaruhi praktik keagamaan di Indonesia. Karya-karya tulis beliau, termasuk berbagai kitab yang beliau tulis, menjadi referensi penting bagi para ulama dan santri di seluruh Indonesia.
Menjadi ahli dalam suatu bidang bukanlah pencapaian yang mudah. Dibutuhkan ketekunan, latihan yang disengaja, fleksibilitas, dan dukungan yang tepat. Teori 10.000 jam menggarisbawahi pentingnya dedikasi jangka panjang dan upaya berkelanjutan dalam mencapai keahlian. KH. Hasyim Asy’ari adalah contoh nyata bagaimana ketekunan dan dedikasi dapat menghasilkan keahlian yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan dampak besar bagi masyarakat luas.
Dengan menginternalisasi prinsip-prinsip ini, siapa pun memiliki potensi untuk menjadi ahli di bidang yang mereka tekuni. Ketekunan dalam belajar, latihan yang disengaja, kemampuan untuk beradaptasi, dan dukungan dari lingkungan sekitar adalah kunci untuk mencapai keunggulan dan meninggalkan warisan yang abadi.
Sumber : Ngaji Jum’at Rutin Gus Syaikhul, Mei (2024).
