Home Tokoh Imadudin Zanki, Sang pejuang Pembebas Al-Aqsa

Imadudin Zanki, Sang pejuang Pembebas Al-Aqsa

by Farrel Dimas Saputra

Imadudin Zanki adalah salah satu pemimpin atau pejuang pembebasan Al-Aqsa. Pada abad 11 Masehi, hal tersebut menjadi musim dingin yang panjang bagi kaum Muslimin sedunia karena saat itu mereka hidup dalam ancaman Pasukan Salib yang sudah 50 tahun menguasai Palestina.

Imad ad-Din Atabeg Zengi (al-Malik al-Mansur) (juga disebut Zangi, Zengui, Zenki, atau Zanki; dalam bahasa Turki İmadeddin Zengi, adalah anak dari Aq Sunqur al-Hajib, gubernur Aleppo di bawah Malik Shah I. Ayahnya dibunuh oleh kelompok Hashasin saat sedang menunaikan salat di Mesjid Jami’ Mosul pada tahun 1094. Menurut sejarawan Ibnu Atsir, Aq Sunqur al-Hajib adalah seorang gubernur yang sangat baik, menjaga salat tepat pada waktunya dan selalu melakukan salat tahajud di malam hari. Zanki kemudian diasuh oleh Karbuqa, gubernur Mosul.

Imaduddin tumbuh sebagai yatim kala musim dingin itu hadir di Dunia Islam. Ia melihat dengan matanya sendiri kafilah haji yang dibantai, desa-desa yang dijarah dan pemimpin muslim yang membungkuk pada raja-raja Eropa itu.

Ia sedih. Ia marah. Ia khawatir. Mengapa harus dirinya yang lahir di zaman sekeras itu. Namun, segala peristiwa kelam yang ia lewati membuatnya jadi seorang manusia yang kuat.

Setiap kesempatan, Karbugha mengajarkan Imaduddin ketangkasan bertempur, dan mendalami fiqh. Ia datang pada Ulama-ulama untuk meminta nasihat, dan ia datangi rakyat untuk memerintahkan kebajikan.

Jadilah beliau, seorang pemimpin hebat yang tangkas di medan laga, cerdas di kursi kuasa. Kemenangan pertamanya tahun 1123 Masehi, ketika menemani Khalifah Al Mustarsyid Billah dari Klan Abbasiyah melawan pemberontakan Syiah.

Beliau sadar bahwa kala itu Pasukan Salib sudah menguasai semua pantai Syam. Kapal-kapal armada laut mereka tak bisa ditandingi dengan mudah.

Maka, Imaduddin memutuskan untuk membangun pondasi Umat Islam dengan mengadakan kaderisasi generasi yang cerdas secara pemahaman agamanya dan tangkas di medan tempur.

Beliau mulai mengadakan kampanye persatuan Umat, dengan mengajak penguasa kota-kota muslimin agar mau berpadu di bawah kepemimpinannya.

Beliau sadar bahwa menyatukan Umat Islam ternyata lebih susah dibandingkan melawan musuh. Nyatanya, dengan perjuangan panjang Imaduddin berhasil menyatukan Syam dan menjadikan kota Aleppo sebagai ibukota pemerintahannya.

Baca Juga:  Musa al-Kadzim, Ulama Penyabar dan Pemberani

Intelijen Pasukan Salib pun menyadari bahwa baru kali inilah dunia Islam bersatu setelah 50 tahun mereka merebut Palestina. Pasukan Salib pun percaya pada Imaduddin. Karena dia layak untuk memimpin. Dia bukan orang biasa, dia adalah “Asadus Syam” The Lion of Syam.

Mengetahui Umat Islam sudah punya tokoh pemersatu bernama Imaduddin Zanki, Raja Yerusalem —King Imanuel— meminta bantuan dari Kekaisaran Romawi Timur yang beribukota di Konstantinopel.

Namun, Imaduddin pun dikenal oleh sejarah sebagai orang yang cerdas berpolitik. Ia mampu memenangkan pertempuran tanpa harus menghadapi musuh.

Cukup hanya dengan membayar orang-orang dalam agar mengadu domba klan-klan besar di Pasukan Salib hingga mereka berpecah belah. Puncak dari kecerdasan politik dan militer Imaduddin Zanki adalah ketika ia berhasil meruntuhkan satu kerajaan dari 5 kerajaan Salib di Syam.

Pada tahun 1137 Zanki menyerang kota Hims kembali, tetapi Mu’inudin berhasil mempertahankan kota; sebagai balasan atas serangan terbaru Zanki, Damaskus bersekutu dengan Kerajaan Salibis Yerusalem untuk melawannya. Zanki mengepung benteng salibis di Barin dan dengan cepat menghancurkan pasukan Yerusalem.

Raja Fulk of Jerusalem setuju untuk menyerah dan diijinkan untuk menarik mundur pasukannya yang tersisa. Zanki yang sedang menyadari bahwa ekspedisinya kali ini melawan Damaskus akan mengalami kegagalan, membuat perdamaian dengan Shahibudin, tepat disaat yang sama terjadi konfrontasi di dengan tentara yang dikirim oleh Kaisar Bizantium, John II Comnenus.

Sang Kaisar baru saja membawa pasukan salib Kepangeran Antiokia yang berada di bawah kekuasaan Bizantium, dan bersekutu dengan Joscelin II of Edessa dan Raymond of Antioch. Berhadapan denngan ancaman pasukan gabungan Bizantium/Salib, Zanki memobilisasi kekuatannya dan merekrut bantuan dari pemimpin muslim lainnya. Di bulan April 1138, pasukan gabungan kaisar Bizantium dan kedua pangeran salibis tersebut mengepung Shaizar, tetapi berhasil dipukul mundur oleh Pasukan Zanki sebulan kemudian.

Related Posts

Leave a Comment