PROGRESIF EDITORIAL – Nafis Azizi Riza dulu adalah santri di salah satu pesantren di Sidoarjo. Kini ia tinggal di Brisbane, Australia, bekerja sebagai software engineer, dan aplikasi buatannya di Canva dipakai ratusan ribu orang setiap bulan. Perjalanan itu bermula dari Pesantren Progresif Bumi Shalawat, tempat ia menempuh pendidikan dari jenjang SMP hingga SMA.
Lulus dari pesantren, Nafis mengambil program double degree Ilmu Komputer di Universitas Indonesia dan University of Queensland dengan spesialisasi Data Science. Di tengah masa studi, ia mengikuti pertukaran pelajar di National University of Singapore. Ia juga sempat menjadi asisten dosen Machine Learning dan beberapa kali menjuarai hackathon, salah satunya NASA Space Apps.
Kini Nafis ikut membangun Avenue Labs, startup software di Australia. Karyanya yang paling dikenal adalah Wave Generator dan Shade, dua aplikasi di Canva Apps Marketplace yang menjangkau ratusan ribu pengguna tiap bulan. Di waktu luang, ia gemar bereksperimen membangun developer tools dan AI agent.
Dari semua pencapaian itu, prinsip belajarnya justru sederhana. “I still learn fastest by building the thing and putting it in front of someone,” tulisnya.
Baginya, belajar paling cepat terjadi ketika ia membuat sesuatu lalu langsung menunjukkannya kepada orang lain.
Dari seorang santri Pondok Pesantren di Sidoarjo ke kantor di Australia, jaraknya memang jauh. Tapi bagi Nafis, perjalanan itu tidak pernah memutus hubungannya dengan tempat ia pertama kali belajar. Pesantren tidak hanya membekalinya ilmu agama, tetapi juga disiplin dan keberanian untuk mencoba hal baru, dua modal yang kini ia pakai di dunia teknologi. Karya Nafis selengkapnya bisa dilihat di nafisazizir.com.
