Toleransi Beragama dalam Islam: Menghormati Perbedaan Tanpa Kehilangan Pegangan

Hidup berdampingan dengan orang yang berbeda agama adalah keseharian di Indonesia. Simak pandangan Islam tentang toleransi beragama dan batas-batas yang menjaganya.
Ila Elsyams 2 min read 2 Penayangan
Komentar 0

PROGRESIF EDITORIAL – Indonesia dihuni berbagai suku, bahasa, dan agama. Perbedaan agama hadir dalam keseharian, di antara tetangga, rekan kerja, dan teman sekolah. Dalam Islam, sikap menghadapi perbedaan keyakinan ini dikenal dengan istilah tasamuh, yaitu sikap berlapang dada, berbuat baik, dan saling memaafkan.

Islam menjunjung kebebasan beragama. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 256, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)”. Dalam surat Al-Kafirun ayat 6, Allah berfirman:

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Islam juga mengajarkan untuk berbuat baik dan adil. Dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah berfirman:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Rasulullah memberi teladan nyata. Beliau berbuat baik kepada tetangganya, termasuk yang non-Muslim, dan tidak memaksakan ajaran Islam kepada mereka. Dalam riwayat disebutkan bahwa beliau menyapa tetangga dengan ramah dan membantu mereka yang membutuhkan.

Toleransi punya batas yang menjadi pegangan. Toleransi dalam Islam berarti menghargai pemeluk agama lain tanpa memaksakan keyakinan kepada mereka, dan tidak berarti mengikuti keyakinan mereka. Kajian tentang ayat-ayat toleransi menyebut larangan mencampuradukkan akidah berdampingan dengan anjuran menghormati perbedaan dan bekerja sama dengan umat lain. Menjaga hubungan baik dalam urusan sosial dan kemanusiaan berjalan beriringan dengan menjaga keyakinan sendiri.

Dalam keseharian, hal itu bisa diwujudkan lewat sikap sederhana: menyapa tetangga dengan ramah, tidak mengolok keyakinan orang lain, tidak mengganggu ibadah mereka, dan bekerja sama dalam urusan kemasyarakatan. Sikap-sikap ini tidak menuntut seseorang meninggalkan keyakinannya. Toleransi beragama tumbuh dari dua hal yang berjalan bersama, yaitu kepercayaan diri terhadap keyakinan sendiri dan kebesaran hati untuk menghormati orang lain.


Menemukan manfaat dari tulisan ini? Bagikan kepada rekan Anda:

Ila Elsyams

Penulis

Penulis aktif di Progresif Editorial. Menghadirkan jurnalisme berimbang dan mendalam.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Sampaikan pandangan dan diskusi santun mengenai topik artikel ini.

Moderasi komentar aktif. Seluruh tanggapan santun akan ditinjau redaksi sebelum ditampilkan ke publik.

Belum ada tanggapan untuk artikel ini. Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan dan berdiskusi secara santun.

Tinggalkan Tanggapan

Isi formulir berikut untuk berpartisipasi dalam ruang diskusi editorial.

0/2000

Secret Link