PROGRESIF EDITORIAL – Indonesia dihuni berbagai suku, bahasa, dan agama. Perbedaan agama hadir dalam keseharian, di antara tetangga, rekan kerja, dan teman sekolah. Dalam Islam, sikap menghadapi perbedaan keyakinan ini dikenal dengan istilah tasamuh, yaitu sikap berlapang dada, berbuat baik, dan saling memaafkan.
Islam menjunjung kebebasan beragama. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 256, “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam)”. Dalam surat Al-Kafirun ayat 6, Allah berfirman:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
Islam juga mengajarkan untuk berbuat baik dan adil. Dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah berfirman:
لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)
Rasulullah memberi teladan nyata. Beliau berbuat baik kepada tetangganya, termasuk yang non-Muslim, dan tidak memaksakan ajaran Islam kepada mereka. Dalam riwayat disebutkan bahwa beliau menyapa tetangga dengan ramah dan membantu mereka yang membutuhkan.
Toleransi punya batas yang menjadi pegangan. Toleransi dalam Islam berarti menghargai pemeluk agama lain tanpa memaksakan keyakinan kepada mereka, dan tidak berarti mengikuti keyakinan mereka. Kajian tentang ayat-ayat toleransi menyebut larangan mencampuradukkan akidah berdampingan dengan anjuran menghormati perbedaan dan bekerja sama dengan umat lain. Menjaga hubungan baik dalam urusan sosial dan kemanusiaan berjalan beriringan dengan menjaga keyakinan sendiri.
Dalam keseharian, hal itu bisa diwujudkan lewat sikap sederhana: menyapa tetangga dengan ramah, tidak mengolok keyakinan orang lain, tidak mengganggu ibadah mereka, dan bekerja sama dalam urusan kemasyarakatan. Sikap-sikap ini tidak menuntut seseorang meninggalkan keyakinannya. Toleransi beragama tumbuh dari dua hal yang berjalan bersama, yaitu kepercayaan diri terhadap keyakinan sendiri dan kebesaran hati untuk menghormati orang lain.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentarSampaikan pandangan dan diskusi santun mengenai topik artikel ini.
Belum ada tanggapan untuk artikel ini. Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan dan berdiskusi secara santun.
Hapus Komentar?
Apakah Anda yakin ingin menghapus tanggapan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.