Home Opini Apakah Memakai Tasbih Bid’ah?

Apakah Memakai Tasbih Bid’ah?

by Mahalli Syarqowie

PROGRESIF EDITORIAL- Tasbih merupakan salah satu alat bantu dalam melantunkan dzikir kepada Allah. Tasbih mulai ada saat zaman setelah kenabian, saat masa kenabian jika seseorang ingin berdzikir, mereka mengguakan tanggannya, Seperti Riwayat ini :

ثبت أنَّ النبي ﷺ كان يعقد التسبيح بيمينه ، رواه أصحاب السنن الثلاثة، وابن حبان في صحيحه

Sesungguh nya Nabi menyimpulkan bacaan tasbih nya dengan tangan nya “Hadist ini di riwayatkan oleh 3 sahabat dan juga Ibnu Hibban di dalam kitab shohih Ibnu Hibban”

Lalu kenapa orang-orang nahdliyin malah memakai tasbih? Berarti bid’ah? Eh tunggu dulu tidak semudah itu membid’ahkan, Simak riwayat Hadist ini :

نعم المذكر السبحة، وإن أفضل ما تسجد عليه الأرض، وما أنبتته الأرض. “الديلمي عن علي”.

Sebaik-baik pengingat dzikir adalah tasbih, dan paling afdol nya tempat sujud adalah bumi, dan sesuatu yang tumbuh dari bumi “HR, Imam Ad-dailamy dari Sayyidina Ali”

[المتقي الهندي، كنز العمال، ٥٣١/٧]

Itu kan hadist dloif? Memang nya kenapa kalo hadist dloif? Boleh kok di amalkan selama dalam urusan fadoilul a’mal sebagaimana yang di sampaikan oleh imam nawawi di dalam kitab majmuk beliau :

لَكِنَّ الضَّعِيفَ يُعْمَلُ بِهِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ

Akan tetapi mengamalkan hadist dloif dalam hal fadoilul a’mal boleh dengan kesepakatan para ulama’

[النووي، المجموع شرح المهذب، ١٢٢/٣]

Zaman dulu, Nabi menghitung dzikir nya tidak hanya memakai tangan nya, akan tetap banyak riwayat Nabi pernah berdzikir di hitung dengan biji kurma dan juga kerikil kecil, Juga riwayat dari para sahabat banyak yang berdzikir memakai tasbih maka Imam Ibnu Hajar menyampaikan :

قَالَ ابْنُ حَجَرٍ: وَالرِّوَايَاتُ فِي التَّسْبِيحِ بِالنَّوَى وَالْحَصَى كَثِيرَةٌ عَنِ الصَّحَابَةِ، وَبَعْضِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، بَلْ رَآهَا عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَأَقَرَّ عَلَيْهَا

Ibnu Hajar berkata : Riwayat yang menjelaskan bertasbih memakai biji kurma dan kerikil kecil banyak dari para sahabat dan sebagian Ummahatul Mu’minin bahkan Nabi pernah melihat hal itu, dan Nabi menyetujui hal itu

[الملا على القاري، مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح، ٧٦٨/٢]

Baca Juga:  Mengulik Upaya Pendistorsian Sejarah Islam di Nusantara

Wahabi masih bilang, Itu kan memakai biji kurma dan kerikil, saya jawab “Masa iya ada yang mudah mau nyari yang sulit” Apakah boleh menghitung dzikir dengan selain biji kurma dan kerikil, ya tentu saja boleh pakek banget, Sebagai mana di jelaskan oleh Imam Syaukani :

قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْلِ ص 211 ج 2 هَذَانِ الْحَدِيثَانِ يَدُلَّانِ عَلَى جَوَازِ عَدِّ التَّسْبِيحِ بِالنَّوَى وَالْحَصَى وَكَذَا بِالسُّبْحَةِ لِعَدَمِ الْفَارِقِ

Dan Telah Berkata Imam Syaukani di dalam Kitab Nailul Author Beliau Halaman 211 juz 2 : 2 Hadist itu Menunjukkan di perbolehkan nya menghitung dzikir dengan biji kurma dan kerikil kecil Juga di perbolehkan dengan menghitung nya dengan tasbih karena baik memakai biji kurma, kerikil kecil dan juga tasbih tidak ada beda nya

[عبد الرحمن المباركفوري، تحفة الأحوذي، ٣٢٢/٩]

Related Posts

Leave a Comment