PROGRESIF EDITORIAL – Foto, video, dan rekaman suara kini dapat dibuat dengan kecerdasan buatan (AI) hingga tampak seperti kejadian sungguhan. Sosok yang tampil di layar belum tentu pernah mengatakan atau melakukan apa yang terlihat. Kabar semacam itu mudah menyebar di media sosial, yang algoritmanya cenderung menampilkan konten dengan banyak reaksi tanpa menilai benar atau tidaknya. Akibatnya, kabar palsu bisa sampai ke banyak orang sebelum sempat diperiksa, sementara klarifikasi datang terlambat. Dalam kondisi seperti ini, kehati-hatian dalam menerima dan meneruskan kabar menjadi kebutuhan.
Al-Qur’an sudah memberi pegangan lewat QS Al-Hujurat ayat 6. Ayat ini meminta orang beriman meneliti kabar yang dibawa orang fasik agar tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah memaknai kata fatabayyanu sebagai perintah untuk meneliti dengan sungguh-sungguh. Ali al-Shabuni menyebut tabayyun sebagai upaya mencari kejelasan dan kebenaran. Tabayyun bukan sekadar ragu atau menunda, melainkan kerja aktif mencari tahu sampai jelas.
Ayat ini turun berkenaan dengan Al-Walid bin Uqbah, yang diutus Nabi memungut zakat dari Bani Al-Musthaliq. Pelajarannya, laporan yang terdengar meyakinkan pun perlu dicek sebelum dijadikan dasar bertindak. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata fasik awalnya dipakai untuk buah yang busuk, lalu dikiaskan kepada orang yang membangkang terhadap agama. Sebagian penafsir kontemporer memperluasnya pada sumber berita yang tidak otoritatif. Hari ini, sumber seperti itu bisa berupa akun tanpa identitas, potongan video tanpa konteks, atau konten yang sengaja dibuat mesin untuk menipu.
Karena itu, tabayyun di era digital menuntut upaya mencari informasi yang valid. Sebuah kajian di jurnal Al-Aqwam menyebut tabayyun sebagai jeda moral sebelum seseorang berbicara, mengunggah, atau meneruskan informasi. Jeda itu penting, tetapi belum cukup. Telusuri siapa yang pertama menyebarkan kabarnya, lalu cek apakah media yang kredibel atau pihak resmi memberitakan hal yang sama. Foto dan video bisa dicari asal-usulnya lewat pencarian gambar, dan kejanggalan pada wajah, gerak bibir, atau suara patut dicurigai. Kalau kabar itu tidak bisa dipastikan, jangan dibagikan.
Rasulullah saw. juga mengingatkan, dalam riwayat Muslim, bahwa cukuplah seseorang disebut pendusta bila ia menceritakan semua yang ia dengar. Tabayyun bukan berarti curiga pada semua kabar, tetapi cara kita menjaga diri, orang lain, dan kebenaran agar tidak ikut menyebarkan kebohongan.
