PROGRESIF EDITORIAL – Dalam sejarah perjuangan Indonesia, ada perempuan-perempuan Muslim yang berjuang dengan nilai Islam sebagai pijakan. Sebagian berjuang lewat pendidikan, sebagian lewat organisasi, dan sebagian lewat perlawanan. Lima di antaranya adalah Rahmah El Yunusiyyah, Nyai Ahmad Dahlan, R.A. Kartini, Rasuna Said, dan Cut Nyak Dhien.
R.A. Kartini dikenal lewat perjuangannya untuk pendidikan perempuan. Ia juga belajar mengaji kepada Kiai Sholeh Darat di Semarang, dan dalam pertemuan itu ia meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Permintaan itu dijawab dengan penulisan Faid ar-Rahman, tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa. Ungkapan “Habis Gelap Terbitlah Terang” pada judul kumpulan suratnya diyakini terinspirasi dari ayat tentang orang beriman yang dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (QS. Al-Baqarah: 257). Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1964.
Nyai Ahmad Dahlan, atau Siti Walidah, membentuk kelompok pengajian perempuan bernama Sopo Tresno pada 1914. Ia ingin para ibu cerdas dalam urusan agama dan juga pandai bergaul dengan sesama. Kelompok itu berkembang menjadi ‘Aisyiyah pada 1917, dan melalui organisasi ini ia memperjuangkan pendidikan perempuan serta partisipasi sosial sebagai bagian dari ajaran Islam. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1971.
Rasuna Said lahir di Maninjau, Sumatra Barat, pada 1910, dibesarkan dalam keluarga Muslim yang taat dan bersekolah di sekolah agama sampai pesantren. Ia dikenal sebagai orator yang lantang dan aktif di Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI). Di Medan, ia memimpin majalah Menara Puteri yang mendorong perempuan berperan lebih besar dalam urusan sosial dan kebangsaan. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1974.
Cut Nyak Dhien lahir di Aceh Besar dari keluarga bangsawan yang taat beragama, dan pendidikan agama yang kuat membentuknya menjadi pribadi yang tabah dan tawakal. Ia memimpin gerilya dalam Perang Aceh. Di pengasingan, ulama yang ditahan bersamanya mengenalinya sebagai ahli agama Islam dan menjulukinya Ibu Perbu, dan ia tetap mengajarkan nilai-nilai agama kepada masyarakat setempat. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1964.
Rahmah El Yunusiyyah mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri di Padang Panjang pada 1923, lembaga pendidikan Islam khusus perempuan yang memadukan pendidikan agama dengan berbagai keterampilan praktis. Ia memperjuangkan hak belajar bagi perempuan agar mampu menjadi pendidik, pemimpin, dan penggerak masyarakat. Pada 1957, Universitas Al-Azhar di Kairo menganugerahinya gelar Syaikhah, menjadikannya muslimah pertama yang menerima gelar kehormatan itu. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.
Kelima tokoh ini hanya sebagian dari banyak perempuan yang berjuang untuk bangsa. Masih banyak pahlawan perempuan lain, di antaranya Dewi Sartika, Cut Nyak Meutia, dan Rohana Kudus, serta perempuan-perempuan yang namanya jarang disebut dalam buku pelajaran. Kisah dan keteladanan mereka perlu dikenal generasi sekarang.
Dari kisah kelima tokoh ini, nilai yang bisa diteladani adalah bahwasanya perempuan berhak mendapat ilmu, kepedulian sosial dijalankan lewat organisasi, dan ketabahan dijaga dalam keadaan sesulit apa pun. Bentuk perjuangan mereka berbeda, dan keyakinan yang menopangnya sama: ilmu dan iman menjadi bekal untuk berbuat bagi sesama.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentarSampaikan pandangan dan diskusi santun mengenai topik artikel ini.
Belum ada tanggapan untuk artikel ini. Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan dan berdiskusi secara santun.
Hapus Komentar?
Apakah Anda yakin ingin menghapus tanggapan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.