PROGRESIF EDITORIAL – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengepung Kalimantan. Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang dikutip Liputan6 pada Rabu (14/10) mencatat 1.135 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah dalam 24 jam terakhir, dari total 1.601 titik di enam wilayah prioritas.
Satwa liar ikut terdampak. Kemenhut menangani 290 individu satwa liar terkait karhutla hingga 8 Oktober, 272 di antaranya di Kalimantan, termasuk 96 orangutan. Di Kalimantan Barat, BKSDA bersama Yayasan IAR Indonesia menyelamatkan 46 orangutan sejak Agustus hingga 9 Oktober, dan delapan di antaranya dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Ketapang. Hilangnya tutupan hutan membuat orangutan terisolasi di perkebunan dengan pakan dan ruang hidup yang terbatas.
Kerusakan akibat ulah manusia sudah lama diingatkan dalam kitab suci. Surat الروم (Ar-Rūm) ayat 41 menyebut bahwa kerusakan di darat dan laut muncul akibat perbuatan tangan manusia. Di sisi lain, Surat البقرة (Al-Baqarah) ayat 30 menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, sehingga bumi dipandang sebagai amanah yang harus dijaga. Kepedulian pada makhluk lain juga terlihat dalam Surat الأنعام (Al-An’ām) ayat 38 yang menyebut hewan sebagai umat seperti manusia, serta riwayat ketika Nabi Muhammad menegur orang yang membakar sarang semut.
Penyebab karhutla di tiap lokasi memang berbeda. Sebelumnya, BMKG menyebut kondisi iklim kering akibat El Nino membuat lahan mudah terbakar, sedangkan penyebab di lapangan perlu dibuktikan lewat penyelidikan.Yang jelas, lahan gambut yang luas di Kalimantan membuat api sulit dipadamkan begitu menyala, sehingga pencegahan dan tata kelola lahan yang berkelanjutan menjadi kunci jangka panjang. Di titik itulah menjaga alam paling terasa artinya. Surat الأعراف (Al-A’rāf) ayat 56 melarang berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki. Dalam konteks karhutla, pesan itu berarti menjaga hutan dan gambut sebelum api menyala, jauh sebelum asap datang.
Menjaganya bisa dimulai dari hal yang dekat. Warga di daerah rawan bisa menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar dan melaporkan titik api yang terlihat. Warga di luar daerah terdampak bisa membantu lewat dukungan kepada lembaga penyelamat satwa dan bantuan untuk korban asap, serta ikut menyebarkan informasi yang benar tentang karhutla.
Selama api belum padam, orangutan masih dievakuasi satu per satu dan warga masih berjalan bermasker di jalan yang jarak pandangnya menipis. Pertanyaan di judul tulisan ini, siapa yang sebenarnya menjaga bumi, punya jawaban yang sederhana: siapa pun yang sadar bahwa bumi ini titipan dan memilih merawatnya.
